Showing posts with label beyond life. Show all posts
Showing posts with label beyond life. Show all posts

Monday, November 10, 2008

Rien à écrire [part deux]


Tengah malam ini seperti biasanya masih berkutat dengan warnet. Tapi warnet yang dikunjungi kali ini lain, sebab menyediakan asap rokok pekat, asbak kotor dan sampah berceceran di kompie sebagai ekstra pelayanannya. Sebenernya aku sudah tahu tentang pelayanan prima ini sejak dulu kala, namun hari ini aku memutuskan untuk menikmati pelayanannya tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka (rangkanya siapa?) penghematan. Yups, di warnet ini menyediakan koneksi cepat namun dengan harga Rp.500 rupiah lebih murah pada happy hournya dibanding warnet kesayanganku itu.

Tapi ternyata it's not a brilliant choice by the way. Sebab ternyata pelayanan prima itu sukses bikin otakku tercuci dan nggak tau lagi harus nulis apa-apa yang bermanfaat. Tampaknya racun nikotin sudah menguasai setiap jengkal area dalam otakku dan membuatnya semakin bebal. Tapi tak apalah, toh aku masih bisa ber-YM ria dan bersua dengan kawan-kawan lamaku di berbagai penjuru dunia (berapa penjuru?). Dan sejujurnya aku cukup gembira karenanya. Ya, daripada bete mending gembira kan...


Karena bebalnya otak dan sempitnya pikiran pada malam ini. Maka kuputuskan saja untuk blogwalking, yang kali ini walking-walking banget. Acara blogwalking memang menjadikan banyak manfaat. Selain termotivasi menjadi blogger yang baik, aktif dan produktif, juga menambah teman blogger (meskipun sampai saat ini belum terlalu banyak *hiks). Aku sadar nggak ada sesuatu yang langsung tumplek menjadi sempurna, pasti selalu ada penyempurnaan. Jadinya aku berharap semoga sepinya blogku ini tidak mengurangi semangatku untuk menulis setiap harinya.

Dari acara blogwalking ini kuamati banyak juga blogger yang berkomentar seputar eksekusi mati pelaku bom bali beberapa waktu yang lalu. Komentar mereka diantaranya beragam, ada yang pro, sangat kontra dan netral. Kalo aku sendiri sih masuk ke kategori netral-netral kontra lah (gimana ya?), tapi memilih untuk nggak mendedikasikan posting untuk mereka. Masih banyak masalah yang perlu di share dalam postingan sih :P. Selain itu SMS-SMS bertebaran dimana-mana (yang kudengar sih). Tapi herannya SMS itu nggak mampir di hapeku, mungkin karena nomer ini masih untuk kalangan terbatas yah.. hehehee. SMS itu diantaranya berisi untuk mendoakan para mujahid (mujahid ya?) agar nyawanya diterima dan agar para pembaca SMS meneruskan perjuangannya (ngebom orang tak berdosa dimana-mana?). Segala hal yang diputer balik kayak gini termasuk tim sukses dalam penghancuran mood-ku untuk menulis hari ini.


Tiga hari yang lalu juga ada puting beliung (angin typhoon) di Yogyakarta. Tepatnya di seputar kawasan kampus UGM Yogyakarta. Angin itu sukses memporak-porandakan segala sesuatu disana. Gerobak-gerobak para PKL (pedagang kaki lima, bukan praktek kerja lapangan - some indonesian abbreviation error), motor-mobil mahasiswa, genting-genting bangunan UGM, juga pohon-pohon yang tumbang. Ketika kejadian itu aku nggak termasuk saksi mata, sebab aku sedang window shopping di Amplaz (*hehehe). Mungkin inilah yang tampak di depan mata sebagai bahaya dari efek perubahan iklim. Tingkatkan saja kesadaran kita semua agar bumi menjadi semakin ramah dan nyaman untuk ditinggali. Pokoknya stop Global Warming bersama-sama!

Kiranya itu saja hasil dari begadang hari ini. Kuputuskan untuk segera pulang ke rumah biar badan bugar di pagi harinya (bukannya sekarang udah pagi ya?). Moga-moga lain waktu aku nggak semakin bosen untuk posting. Komentar, saran, pendapat, makian, dan hujatan ditunggu-tunggu selalu kehadirannya lho. Tetep semangat nge-blog dan selamat Hari Blogger Indonesia! Tapi kayaknya aku nggak ikutan PestaBlogger, sebab kondisi pekenomian sedang resesi habis, doain tahun depan bisa ikut.

Friday, November 07, 2008

Child Trafficking


Masih berhubungan dengan kasus pernikahan Ulfa. Aku begitu miris ketika menyadari bahwa perdagangan anak masih marak di negeri ini. Anak yang seharusnya dapat dengan bahagia menjalani masa kecilnya, harus dihadapkan pada kenyataan hidup mereka yang gelap. Mereka (para anak-anak di bawah umur) dipaksa untuk bekerja paksa, menjadi budak, bahkan menjadi pemuas nafsu seksual para hidung belang (pria atau wanta). Sungguh mengerikan memang praktek trafficking alias perdagangan manusia ini. Apalagi jika yang jadi korbannya adalah anak-anak.

Dulu aku pernah baca di koran (lupa nama, judul, maupun tanggalnya) bahwa di Cina ada sekelompok anak-anak yang dipaksa bekerja di pabrik keramik dan genting bahkan hingga usianya mencapai 30 tahun lebih. Ketika diketemukan, kondisi mereka sudah kurus kering dan sakit-sakitan karena puluhan tahun bekerja paksa. Sungguh tidak terpikirkan kalo ini harus dihadapi oleh anak-anak Indonesia. Tetapi inilah kenyataan yang benar-benar terjadi di Indonesia. Banyak anak yang harus putus sekolah karena dipaksa bekerja, bahkan oleh orangtua kandung mereka sendiri. Alasannya apa lagi kalo bukan masalah ekonomi. Karena perekonomian keluarga yang buruk anaklah yang harus menanggung semua.


Pada Undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2002 tentang Pelindungan Anak pasal 4 jelas-jelas disebutkan bahwa "Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi". Undang-undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 1 juga menyatakan bahwa Anak adalah setiap orang yang berumur dibawah 18 (delapan belas) tahun", artinya sebelum umur 18 tahun (berarti aku bukan anak-anak lagi ya! pake nanya lagi) mereka belum diperbolehkan untuk bekerja. Namun kenyataannya undang-undang ini hanyalah berakhir sebagai kertas bisu yang tidak berfungsi apa-apa. Pemerintah belum mampu melindungi warga-warganya dibawah umur untuk tidak memperoleh kekerasan dan diskriminasi. Padahal kenyataan itu terpampang jelas di dalam kehidupan sehari-hari. Di perempatan jalan dapat dilihat anak-anak usia sekolah bahkan bayi yang dipaksa ikut mengemis atau mengamen. Sungguh sebuah kenyataan yang pedih dan menyayat hati, di jaman kemerdekaan ini beberapa anak-anak masih belum menikmati kemerdekaan.


Berbicara masalah gepeng (gelandangan dan pengamen) anak-anak, aku pernah mendengar bahwa ada beberapa pihak yang memanfaatkan mereka untuk transplantasi organ. Ya, transplantasi organ, anda tidak salah dengar. Anak-anak tersebut dipaksa untuk diambil ginjal, kornea, dan organ-organ mereka yang lain untuk dimanfaatkan sebagai transplant organ. Beberapa dari anak-anak itu terpaksa menjalani hidup mereka dengan kondisi catat, juga ada pula yang terenggut jiwanya. Memang sadis sekali pihak yang mempraktekkan hal ini. Akan tetapi sayangnya nasib mereka kadang terabaikan dan hanya berakhir sebagai buah bibir.

Tidak hanya gepeng, ada pula anak-anak dari keluarga bahagia yang diculik dan dieksploitasi. Mereka direnggut dari keluarganya dan dijadikan budak untuk pekerjaan kasar. Ada pula yang dipaksa menjadi pekerja seksual di bawah umur. Akhirnya yang terjadi adalah mereka tumbuh menjadi pribadi liar dan menjalani kehidupan yang gelap. Sudah terampas seluruh hak-hak asasi mereka sebagai manusia dan anak-anak. Kemalangan ini harus dialami oleh banyak anak-anak di Indonesia yang harusnya hidup bahagia dan tumbuh bersama keluarga mereka.

Menyadari kenyataan tersebut seharusnya pemerintah dan masyarakat harus mulai bertindak. Tidak ada yang lebih penting selain melindungi generasi muda bangsa Indonesia. Merekalah yang akan menentukan masa depan Indonesia. Bentuklah organisasi yang mampu menjamin pendidikan anak-anak dan kesejahteraan mereka. Kumpulkanlah anak-anak yatim piatu untuk ditampung di tempat yang benar, seperti pesantren atau asrama misalnya. Dan bagi orang tua, luangkanlah waktu untuk lebih mempedulikan anak-anak. Jangan sampai ada lagi anak yang menjadi korban trafficking kelak, marilah kita bertindak sekarang.

Baca Undang-undangnya di:
Undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2002 tentang Pelindungan Anak
Undang-undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Beca tentang human trafficking di:
Human Trafficking - Wikipedia, the free encyclopedia

Friday, October 31, 2008

Oleh-oleh dari Suami


Masih inget kasusnya Ratna Damayanti yang nangis-nagis menggugat cerai sebab suaminya udah nggak peduli dengan keluarga dan malah berselingkuh dengan wanita lain. Dia mengatakan bahwa atas perselingkuhan itu dia dihadiahi penyakit kotor oleh Rizky The Titan akibat berhubungan intim dengan banyak wanita. Terlepas dari berita itu benar atau salah, kasus itu merupakan suatu frame yang saat ini banyak ditemukan pada keluarga-keluarga muda di Indonesia. Pasutri dengan suami selingkuh yang kemudian istri menderita penyakit menular seksual atau bahkan terinfeksi HIV. Sungguh malang memang, di jaman yang katanya sudah menjunjung tinggi persamaan gender ini, keadaan seperti itu masih dapat dengan mudah dijumpai.

Malam ini, acara Kick Andy di MetroTV sedikit banyak membahas pula isu serupa. Dimana sang istri yang tidak tahu menahu apa-apa tiba-tiba saja harus menghadapi kenyataan dirinya mengidap penyakit akibat terinfeksi virus HIV. Belum lagi bayinya yang tidak berdosa memiliki kemungkinan lebih dari 30% untuk terinfeksi. Sungguh malang benar keadaan ini, hak manusia untuk bisa menikmati hidupnya dengan sehat telah ditindas oleh karena ketidakmampuan suami untuk menjaga diri dan pasangannya. Belum lagi, si jabang bayi yang kemungkinan besar terinfeksi juga harus menderita ketika baru beberapa detik datang ke dunia. Ketimpangan gender kadang memang menimbulkan keprihatinan luar biasa bagiku.


Saat ini resiko bagi istri untuk tertular PMS maupun HIV dari pasangannya cukuplah tinggi. Elizabeth Pisani penulis buku Kearifan Pelacur, seorang ex-wartawan Reuters yang hadir pula dalam talk show Kick Andy memprediksikan bahwa ada sekitar 60% suami yang terlihat baik-baik saja kelakuannya yang menggunakan jasa pekerja seks wanita bahkan waria. Untuk itulah keadaan ini perlu dicermati keberadaannya. Apakah terasa adil saat seorang istri lugu di desa tiba-tiba mendapat kabar suaminya sakit-sakitan oleh infeksi HIV dan mendapati dirinya beresiko tinggi? Memang saat ini kaum wanitalah yang banyak ditindas haknya dalam isu HIV/AIDS.

Oleh karena dapat disimpulkan bahwa untuk menghentikan penindasan atas hak-hak perempuan, perlu ditanamkan persamaan gender dalam penanggulangan kasus penyebaran HIV/AIDS yang semakin marak. Sudah saatnya istri diberi hak untuk mengetahui status kesehatan pasangannya lebih dini. Begitu pula para suami yang harus bersikap arif ketika memutuskan untuk menggunakan jasa pekerja seks yaitu dengan melindungi diri sendiri dan pasangan (memakai pengaman/kondom). Untuk pengguna narkoba suntik (injecting drug user) mulailah untuk tidak bersikap bodoh dengan membiarkan diri berada pada resiko tinggi akibat penggunaan jarum suntik bergantian. Penyebaran HIV/AIDS sebenarnya merupakan rangkaian kelalaian-kelalaian manusia untuk melindungi diri sendiri. Ketika seseorang terinfeksi HIV maka akan ada puluhan bahkan ratusan orang disekitarnya yang menjadi beresiko untuk tertular juga.


Salah satu kabar menggembirakan adalah ketika kudengar sudah ada female condom yaitu sejenis kondom yang didesain bagi wanita. Dengan female condom maka wanita diberi hak untuk melindungi dirinya sendiri atas penyebaran HIV/AIDS. Maka, bila pasangan maupun suami menolak untuk menggunakan kondom saat berhubungan seksual, wanita punya kewenangan untuk melalukan tindakan alternatif perlindungan diri, salah satunya adalah dengan menggunakan alat ini. Lebih menggembirakan lagi bahwa sekarang resiko bayi tertular HIV dapat ditekan hingga kurang dari 2% melalui program yang dinamakan Preventing Mother To child Transmission (PMTCT) atau program pencegahan penularan dari ibu ke anak. Tentunya program ini sangat membantu melindungi hak-hak anak-anak untuk sehat. Jangan sia-siakan generasi muda suatu bangsa dengan membiarkannya terinfeksi HIV. Program PMTCT perlu disosialisasikan lebih keras, agar nantinya tidak ada lagi bayi yang terinfeksi akibat perbuatan kedua (atau salah satu dari) orangtuanya.

Masalah HIV/AIDS adalah masalah kita semua, bahkan bagi yang tidak beresiko sekalipun. Untuk memberantas penyebaran virus HIV, perlu ditanamkan kearifan sosial. Bukan saatnya lagi mengkotak-kotakkan waria, pekerja seks, homoseksual dan pengguna narkoba sebagai penyebar HIV. Semua orang dapat terinfeksi HIV tanpa harus dibeda-bedakan perilakunya, orientasi seksnya, juga posisi sosialnya dalam masyarakat. Inilah saatnya mewujudkan toleransi dan solidaritas antara ODHA dan bukan ODHA, juga antara kelompok beresiko dan tidak beresiko. Sekali lagi HIV/AIDS adalah masalah global. Masyarakat perlu mendukung para ODHA untuk hidup lebih sehat dan mampu untuk mendapatkan kembali fungsi sosialnya. Salah satunya adalah kasus ARV yang saat ini mulai langka. Kasus ini harus dituntaskan oleh seluruh elemen masyarakat, karena ODHA juga adalah bagian dari masyarakat. Mereka juga adalah manusia.

Heran ya kenapa sih sekarang aku begitu sensitif atas masalah-masalah sosial yang ada disekitarku. Lihat Kick Andy aja sampe kebawa nulis artikel ini, hehehe...

Referensi :
Acara talk show Kick Andy
"KEARIFAN PELACUR" di Metro TV hari Jumat, 31 Oktober pukul 21.30WIB
Yayasan Spiritia
Wikipedia tercinta

Sumber gambar pasti dari Corbis lah

Thursday, October 30, 2008

Halloween Creepy Time


Bulan Oktober memang bulannya Halloween. Halloween atau All Hallow Eve adalah festival yang lazin dirayakan di Amerika Utara khususnya Amerika Serikat. Biasanya Hallowen dirayakan setiap tanggal 31 Oktober atau malam sebelum hari raya Katolik yaitu Hari Semua Orang Kudus (All Hollow), dari situlah asalah nama Halloween. Asalnya Halloween merupakan tradisi paganis untuk merayakan musim panen yang dibawa oleh orang Celt dari Irlandia, Britania dan Perancis. Halloween selalu identik dengan mahluk menyeramkan dari dunia barat, seperti penyihir, goblin, setan, monster, dll. Labu Jack O'Lantern adalah simbol yang identik Halloween. Di Indonesia sendiri Halloween kurang dikenal namun mulai diperkenalkan melalui penyebaran pengaruh kebudayaan Amerika. Contohnya dapat dilihat saat ini, banyak TV yang mulai menjadikan Halloween sebagai tema tayangannya.

Malam ini seperti biasa aku gelisah menunggu jam tengah malam untuk bisa ke warnet dan menikmati happy hournya yang super murah. Sembari menunggu tengah malam aku biasa nonton tayangan film di TV untuk membunuh waktu. Tapi tayangan malam ini bener-bener menyebalkan. Setelah bosan menonton sinetron di RCTI, aku pindah channel ke Trans TV yang ternyata menyajikan film horror. Film horror adalah genre film yang sangat aku benci. Selain membuat penontonnya ketakutan, film horror tidak memberikan apa-apa lagi yang bermanfaat. Balik lagi pindah ke RCTI yang kali ini menayangkan juga film monster, yang bikin aku ngeri dan jijik. Jadi malam ini, mau tak mau aku harus menikmati sajian film yang hanya bikin aku ngeri untuk keluar rumah.


Begitu menyebalkannya cara merayakan Halloween seperti ini. Mungkin di negara asalnya Halloween diperingati dengan trick or threat, labu Jack O'Latern, pesta kostum, dll itu bisa terasa meriah dan seru. Tapi kalo dirayakan dengan tayangan seram kayak gini jelas-jelas aku nggak setuju. Sejujurnya aku bukan tipe orang penakut. Tapi aku paling tidak suka ditakut-takuti. Perasaan takut seperti ini hanya membuat aku kehilangan pikiran rasional. Kehilangan pikiran rasional membuat aku menjadi takut keluar rumah walaupun ingin. Dan akhirnya aku cuma bisa misuh-misuh sambil memaksa untuk pergi ke warnet.

Nonton film horror sebenernya kayak buah simalakama. Ketika belum mulai nonton memang kayaknya males banget dan begitu kuhindari. Namun begitu sudah mulai melihat sedikit tayangannya, timbul juga rasa penasaran ingin tau ceritanya. Wah, kalo udah gini rasanya seperti tersihir dan tidak mau beranjak. Sesudah menonton biasanya aku cuma bisa menyesal, karena yang tersisa cuma rasa takut. Aku juga heran, kenapa sih manusia senang menakut-nakuti diri sendiri. Sepertinya film horror sudah seperti candu yang mematikan saja. Yang namanya candu memang suka sesal di belakang. Itulah yang buat aku begitu menghindari film horror. Tapi kalo memang udah nggak ada yang lain buat dikerjakan atau ditonton ya apa boleh buat. Kacau besar lah pokoknya kalo udah di situasi ini.


Akhirnya jarum jam nunjukkin juga pukul 12 malam. Itu artinya aku harus keluar rumah kalo ingin ke warnet dengan happy hour price. Ya, akhirnya aku ambil pilihan untuk keluar biarpun dengan resikp ketakutan. Jam segitu di komplek aku kebanyakan udah pada tidur dan suasana malam menjadi mencekam. Malam-malam seperti ini biasanya tidak begitu mempengaruhiku. Aku yang memang sudah terbiasa keluar malam tidak pernah mempedulikan betapa mencekamnya suasana tengah malam itu. Tapi lain sekali malam ini, sehabis nonton dua tayangan bioskop Trans TV, yaitu Darkness Fall dan Tales From The Crypt pikiran irrasionalku mulai menguasai. Jangan-jangan ini, jangan-jangan itu, perasaan was-was akan sesuatu yang nggak perlu dicemaskan memang menyebalkan. Namun toh aku pergi dan sampai ke warnet juga. Dengan itu terbuktilah bahwa sebenernya rasa takut hanyalah bagian dari imajinasi. Aku akui setan itu memang ada, tapi setan bunuh orang rasanya kok masih sulit ya buat percaya.

Bahan bacaan:
Halloween - Wikipedia Indonesia
Halloween - Wikipedia English

Sumber foto: Corbis, Marion Raven

Tuesday, October 28, 2008

Paedofilia Berkedok Agama


Sudah dengar berita tentang Syekh Puji (45 tahun!) yang nekat menikahi Ulfa, gadis (atau anak-anak ya?) berumur 12 tahun. Kejadian ini sontak langsung memicu amarah masyarakat, rohaniawan dan kaum feminis dan langsung menentang pernikahan (atau perkawinan sih?) yang sebenarnya akan membatasi hak-hak anak untuk bergaul dan tumbuh seperti anak-anak lain pada umumnya. Tapi yang ditentang untuk ternyata malah balik menantang dan merasa yang dilakukannya itu merupakan hal yang benar karena agama memperbolehkannya. Waduh kacau berat nih.

Syekh Puji merupakan pengusaha kaya raya dan tokoh rohani yang terpandang di Semarang. Mobilnya saja sudah puluhan belum lagi propertinya. Selain itu dia juga sudah punya istri yang katanya lebih mengutamakan urusan agama dan sedang fokus mengurus pondok pesantren. Alasan inilah yang membuat beliau ini nekat melakukan audisi mencari bakat-bakat gadis muda untuk dinikahi. Tidak hanya muda, kyai paedofil ini mencari anak dibawah umur untuk dinikahi. Menurut beliau, setelah dinikahi, maka anak kecil itu akan dididik untuk mengurus perusahaan besarnya. Sepertinya alasan ekonomi memang menjadi faktor yang mendorong terjadinya pernikahan paedofil ini.


Tapi menurut orang tua anak dibawah umur tersebut, pernikahan itu terjadi semata-mata atas keinginan si anak sendiri. Masalah ekonomi menurutnya sama sekali bukan faktor yang menjadi dasar keputusan. Oleh sang orang tua, Kyai Paedofil itu dianggap sebagai pendidik spiritual dan pengusaha sukses yang mampu membahagiakan Ulfa, anak berumur 12 tahun itu. Setelah dinikahi, katanya Ulfa akan disekolahkan manajemen dan seluruh kebutuhannya akan dipenuhi. Padahal Syekh Puji sendiri berkomentar bahwa untuk menjadi istrinya, Ulfa tidak perlu sekolah lagi karena beliau nggak perlu ijazah. Satu lagi hak anak untuk memperoleh pendidikan dicederai. Parah bener nih orang!

Menurut Syekh Puji, nikah di bawah umur tidak dilarang oleh agama. "Nabi Muhammad sendiri menikahi Siti Aisyah sewaktu berumur 9 tahun" alasannya. Tapi MUI sendiri mengatakan bahwa tindakan Rasulullah tidak bisa sembarangan ditiru oleh manusia biasa, apalagi yang merasa sudah banyak tahu tentang agama. Untuk bisa menikah dibawah umur harus diputuskan oleh pengadilan. Syekh Puji menantang bagi siapun yang menentangnya untuk menunjukkan dalil hukum syariah Islam yang tidak membenarkan tindakannya, sekali lagi terlihat wujud kesombongannya yang merasa hidup di negara Islam dan tidak menghormati hukum yang berlaku di Indonesia yang jelas-jelas menentang seorang wanita untuk menikah dibawah umur 16 tahun.

BKKBN sendiri menganjurkan bagi wanita untuk menikah diatas umur 20 tahun. Sebab sebelum umur 20 tahun, organ reproduksi wanita belum terbentuk dengan matang. Selaput pada mulut rahim yang masih tipis akan sangat rentan untuk menimbulkan penyakit kanker mulut rahim. Kemungkinan timbulnya penyakit kanker mulut rahim akan semakin besar jika dilakukan hubungan intim sebelum umur 20 tahun. Peradangan pada selaput di mulut rahim akan memicu sel-sel kanker untuk terbentuk. Dan siapa lagi yang akan menderita selain anak-anak lugu yang menjadi korban para paedofil ini. Sungguh malang memang nasib mereka.

Untuk itulah para orangtua seharusnya mampu melindungi anak-anak gadisnya agar tidak menjadi korban praktek paedofil. Janganlah menjadikan agama sebagai payung hukum. Sebab saya rasa Islam sendiri mengajarkan untuk tidak melakukan sesuatu yang sebenarnya dapat untuk dihindari dan bukan sesuatu yang darurat seperti pernikahan paedofil misalnya. Jika memang tujuan Syekh Puji adalah untuk menjadikan istri pilihannya sebagai pemimpin perusahaan, mengapa tidak memilih istri muda yang telah cukup umur saja. Beliau memang sudah benar-benar gendeng, melihatnya saja aku sudah gedeg. Kabarnya kyai paedofil ini akan menikahi anak-anak dibawah umur lainnya. Sebaiknya memang pemerintah dan masyarakat lebih tegas untuk bertindak. Jangan sampai hal ini sampai terulang lagi. Hormatilah hak anak dan wanita, jangan jadikan kekuasaan, harkat dan martabat sebagai sarana untuk menindas orang lain.

Update:
Dikabarkan Syekh Puji membatalkan (atau menceraikan sih?) pernikahannya dengan Luthfiana Ulfa setelah mendapat kecaman keras dari komnas perlindungan anak dan dilaporkan perbuatannya ke kantor polisi. Kuasa hukum dari Syekh Puji meminta agar setelah Ulfa diceraikan, maka tidak ada lagi tuntutan hukum yang dialamatkan pada Syekh Puji (duh, enak banget ya!). Namun beberapa pihak menuntut agar Syekh Puji memberikan ganti rugi atas derita psikologis Ulfa paska diceraikan. Lebih menggembirakan lagi, sekolah Ulfa dengan senang hati menerima kembali gadis itu untuk kembali bersekolah. Di sekolah Ulfa termasuk anak yang berprestasi dan cerdas, begitu menurut pengakuan salah seorang temannya. Yah, semoga kasus yang super ribet ini nggak terjadi lagi deh.

Thursday, October 23, 2008

Alter Egos


Me, at my home sweet home. I need to go out, somewhere far from home
Me, somewhere far from home. I need to back home, I feel insecure
Me, alone and feel lonely. I need to be around with somebodies who love me
Me, around with somebodies who love me. I need to take a break and be alone
Me, finally I know that I am restless. I have no place to stay

Sepenggal kalimat ini adalah apa yang aku rasain tadi. Lucu juga ya, aku sekarang nggak inget lagi apa maksud kalimat itu. Jadinya sulit mau nulis apa dan menjelaskan apa. Entahlah, kadang ngeri juga kalo menyadari bahwa terkadang aku seperti bukan aku. Penyakit pikunku ini kadang berkembang menjadi ketidaksadaran. I have no place to stay, even in my mind. Gagasan, pikiran, penyataan-pernyataan terkadang hilang seperti kabut. Keinginan, ketakutanku adalah sesuatu yang tidak terdefinisikan. Aku adalah manusia amoeba.

Tapi lupakanlah, hidupku mungkin hanyalah kumpulan dari mozaic-mozaic tak beraturan dan beraneka warna. Sepintas tampak semrawut dan tidak harmonis, namun itu adalah suatu kesatuan. Keberanekaragaman membuat hidup menjadi dinamis dan fleksibel. Mungkin suatu saat aku mampu menerima semuanya. Jika bumi menyediakan susu, maka aku bisa menjadikannya yogurt atau keju. Apapun yang bumi sediakan, aku harus mampu menjadikannya baik. Bumi telah menyediakan segalanya untuk memenuhi segala kebutuhanku. Tapi bumi tidak menyediakan apapun untuk segala kerakusanku.

Dimanapun aku berada, selalu ada cara untuk menjadikannya seperti di rumah. Rumah yang sebenarnya ada dalam pikiranku. Semua yang tersaji secara visual mungkin adalah semu. Nikmatilah segala kebosanan yang ada. Janganlah mempersalahkan keadaan. Terimalah keadaan apapun yang mungkin akan dialami. Tidak akan pernah ada habisnya sesuatu untuk disesali. Pilihan selalu ada di tanganku, untuk menikmatinya atau menjadikannya siksaan.

Wednesday, October 22, 2008

Tetraphobia, Sebuah Tahayul


Sebagai warga Jogja aku memang sudah terlalu lama tinggal di Jogja. Suatu ketika aku dapat kesempatan berkunjung ke Jakarta dan diajak berkeliling melihat gedung-gedungnya yang tinggi. Saat memasuki salah satu gedung apartemen di kawasan Jakarta Barat aku agak terheran-heran melihat angka-angka lantai pada elevatornya. Pada elevator itu angka 4, mengandung angka 4 dan kelipatannya juga angka 13 hilang. Kemanakah raibnya angka-angka ini. Selama ini seumur-umur di Jogja aku hanya menemui elevator dengan angka lantai B, LG, G, 1, 2, dan 3, tidak pernah sampai angka empat. Aku akui memang aku itu ndeso. Heheheh

"Kok aneh sih, elevator ini tidak ada tombol untuk menuju lantai 4 dan kelipatannya" tanyaku heran.
"Angka empat itu menurut kebudayaan Cina berarti mati, jadinya seluruh bangunan tinggi di Asia menghindari penamaan lantai yang mengandung angka empat" jelas seorang wanita Tionghoa disamping aku.
"Oh gitu"

Karena masih saja penasaran aku coba tanya mbak Wikipedia, dan pernyataan itu dibenarkan oleh beliau. Menurut mbak Wikipedia, hal itu disebut Tetraphobia alias ketakutan terhadap angka 4. Kepercayaan tahayul ini banyak muncul di negara-negara Asia Timur seperti Cina, Jepang, Korea dan Taiwan. Tetraphobia dipicu oleh kesamaan bunyi bahasa Mandarin dari kata "empat" (四, pinyin: sì) dengan kata "mati" (死, pinyin: sǐ). Begitu pula dengan bahasa-bahasa Asia Timur lainnya, kata "empat" selalu berbunyi mirip kata "mati".


Memang yang namanya phobia apalagi tahayul itu sulit untuk dipikir secara logis. Bagaimana mungkin sebuah angka dapat menentukan nasib buruk atau bahkan kematian seseorang? Rasanya memang tidak masuk diakal. Tapi bagi yang mempercayainya, hal (tahayul) itu dapat dengan mudah untuk dibuktikan kebenarannya. Aku jadi inget waktu nonton The Skeleton Key ada tag yang lumayan kena banget yaitu "Fearing is Believing". Ketakutan itu akan selalui menghantui ketika seseorang mempercayainya. Mungkin itulah yang disebut sugesti alam bawah sadar kali ya.

Ada juga cerita lain waktu ibuku memutuskan hari untuk pulang setelah satu minggu lebih dirawat di RS akibat Typus. Beliau bilang kalo sebaiknya jangan pulang hari (Selasa ato Rabu ya?) sebab bisa bikin bala. Aku belum pernah denger tahayul itu sih cuek aja. Menurut aku tidak ada hubungannya dan tidak ada alasan rasional untuk menjelaskan tahayul itu. Apa yang membuat hari yang disebutkan beliau itu mampu mendatangkan musibah? Ya balik lagi sih, percaya nggak percaya aja.


Di jaman serba modern ini memang makin banyak aja orang yang tidak percaya tahayul seperti aku ini (ato makin berkurang ya?). Boleh aja sih nggak percaya, tapi bukan berarti bertindak gegabah. Tahayul aku rasa adalah bagian dari suatu budaya. Dan menghormati budaya lebih banyak mendatangkan manfaat dibanding kerugian. Jangan mentang-mentang nggak percaya tahayul terus cuek aja gitu pipis di Lawang Sewu. Wah, kalo kesambet nggak nanggung ya. Hehehehe

Oh iya, selain Tetraphobia ada juga Triskaidekaphobia yaitu takut terhadap angka 13. Ketakutan ini berkaitan dengan Jumat ke-13 (Friday 13th) dan lantai ke-13 (13th Floor). Tahayul memang tidak ada habisnya di dalam hiruk pikuk kehidupan di dunia ini. Mengenai Tetraphobia atau Triskaidekaphobia hanyalah secuil dari berbagai jenis phobia dan tahayul yang dialami manusia. Menurut mbak Wikipedia masih ada 90-an lebih jenis phobia dan mungkin ribuan lagi jenis tahayul. Wow!

Tuesday, October 21, 2008

Quick Post


Nggak terasa rasanya udah 6 hari semenjak postingan terakhir. Berada dalam situasi malas seperti ini memang kadang membuat keterusan sampai akhirnya menyadari banyak hal yang terlewat. Kalau sudah kayak gitu biasanya hanya bengong atau mulai bingung. Apa daya sesuatu yang terlewat memang tidak bisa dikembalikan lagi. Jadinya yang bisa dilakuin cuma mengais-ngais apa saja yang belum terlewat untuk kemudian dimanfaatkan sebaik-baiknya. Lebih baik terlambat daripada tidak pernah sama sekali. Tapi tentunya akan lebih baik lagi jika tidak pernah sampai terlambat.

Ngomong apa sih tadi barusan? Yang jelas selama 6 hari ini aku banyak disibukkan oleh berbagai kegiatan nggak penting. Tidak post bukan berarti tidak online. Hampir setiap hati aku online cuma tidak punya ide untuk posting, bahkan hari ini. Kerasa banget deh rasanya kalo bener-bener butuh banget yang namanya komputer. Disaat punya ide, tiba-tiba saja bisa menguap kalo nggak segera direalisasikan. Tapi apapun itu, jangan sampai keterbatasanku mampu membatasiku lebih jauh lagi. Sekarang itu waktunya bangkit untuk mencari sesuatu yang belum ada, bukan untuk menyesali apa yang tidak ada. Fasilitas memang membantu terciptanya kreativitas, namun bukan menjadi candu kreativitas.

Omong-omong seneng juga nie, akhirnya aku dapat awardku yang pertama dari mbak Astrid as Friendly Blogger. Berlebihan nggak sih sebenernya? Sebagai blogger aku tidak cukup rajin untuk blogwalking dan berkenalan dengan temen blogger lainnya. Cukup friendly-kah aku? Hehehe, aku rasa masih jauh lah. Positive thinking-nya moga-moga dengan award ini aku bisa semakin friendly, baik di dunia maya maupun nyata. Biarpun nggak ada kewajiban untuk nerusin ke banyak orang, tapi aku akan coba untuk nerusin award ini buat pak'deku sendiri dan Antown. Monggo diambil ya, itulah susahnya kalo nggak cukup friendly, dikasih award gini bingung mau kirim balik ke siapa.

Setelah berkali-kali gonta-ganti logo, akhirnya aku nemu juga logo dan tagline yang cocok buat blog ini. Logo ini tipografinya terinspirasi dari album-art Womanizer-nya Brtiney Spears. Bahkan aku memakai jenis font yang sama, moga-moga saja nggak dikatakan plagiat. Ya kata orang sih terinspirasi itu lebih terhormat daripada plagiat. Gimana menurut kisanak logo baruku ini? Hope got a good respond. itung-itung belajar desain lah. Sudah lama vakum soalnya.


Cukup banyak sebenarnya rencanaku ke depan yang udah aku pikirkan. Salah satunya adalah untuk bisa kerja part time. Saat ini memang aku butuh penghasilan untuk bisa menebus notebook dambaan. Selain itu aku juga pengen lebih serius kuliah. Belakangan ini aku merasa begitu ketinggalan dan tambah geblek. Kalo ingin masa depan yang lebih baik seharusnya aku mampu merubah semua kebiasaan buruk itu. Hilangkan sifat malas dan semakin semangat. Kesuksesan hanya menunggu untuk diraih kok sebenernya.

Hari ini juga adikku Sinta berangkat ke Bandung buat acara lomba bahasa Mandarin. Moga-moga dia bisa sukses disana dan mendapat juara. Melihat usahanya yang gigih untuk belajar dan latihan bahasa Mandarin selama setahun ini rasanya cukup pantas dia mendapatkannya. Tapi tentunya keputusan juri dan kehendak Tuhan yang menentukkan segalanya. Lagi-lagi sebagai manusia cuma bisa menerima segala pemberian Tuhan sebagai anugerah. Bila pandai bersyukur pasti akan mendapat lebih.

Seperti biasa gambar bersumber dari Corbis

Monday, October 13, 2008

19 and Counting


serpihan hati ini kupeluk erat
akan kubawa sampai kumati
memendam rasa ini sendirian
ku tak tau mengapa
aku tak bisa melupakanmu…
Kebiasaan buruk aku kambuh lagi. Selalu terbawa perasaan, padahal itu nggak perlu. Kadang-kadang hanya gara-gara lagu ato film bisa jadi mellow-mellow nggak jelas gini. Seperti tanda-tanda orang gila. Semua kerjaan jadi kacau, tugas laporan praktikum linux juga kacau belum aku kerjain sama sekali. Materi buat ikutan lomba nulis juga belum dibuat sama sekali gara-gara penyakit yang sering kambuh ini. Aku nggak tau tuh, seharusnya aku tuh nyaman-nyaman aja ngejomblo tanpa ada rasa yang aneh-anaeh gini. Selama ini kan aku menganut motto "Be Single and Happy Forever". Tapi aneh, kalo emang gitu kenapa harus ada rasa mellow kayak orang kesepian gini ya.

Aku sering dibuat frustasi karenanya. Sering tiba-tiba penegen begadang di warnet meskipun uang menipis. Susah tidur dan mulai ngebayangin dan mikirin apa-apa yang harusnya dihapus saat mau tidur. Punya keinginan ini itu yang memenuhi otak. Tapi keinginan itu sebatas hanya bisa memenuhi otak saja, karena untuk merealisasikannya aku tuh omdo (omong doang). Itulah yang bikin aku benci banget ama diri sendiri. Mau jadi apa aku ini kalo terus seperti ini. Semuanya kan nggak bisa semata-mata jatuh dari langit. Kalo nggak ada usaha meraihnya semuanya bakalan terlewat begitu saja.


Apa sih perkembanganku sejauh ini? Umur aku 19 and counting and counting. Waktu terasa begitu cepat berlalu serasa naik Rollercoaster. Buku-buku udah aku buka dan aku tutup. Dan begitu aku sadar nantinya aku sudah akan menutup buku terakhirku? Apakah sisa hidupku yang bisa berarti untuk ditinggalkan nantinya. Semuanya cuma omong kosong dan lelucon. Akhirnya nantinya aku cuma akan dilupakan dan terhapus dari sejarah. Nggak pernah ada catatan untuk mengingat sesuatu yang merujuk pada aku. Aku cuma satu dari sekian orang biasa-biasa aja yang nggak penting bagi dunia ini.

Aku rasa feeling mellow gitu ada benarnya juga. Udah saatnya aku mulai sadar dan berbenah diri. Saat ini bukan lagi saatnya meratapi nasib dan mempersalahkan takdir. Udah waktunya untuk berbenah diri untuk memperbaiki nasib dan bersahabat dengan takdir. Bukan lagi memikirkan apa yang tidak dimiliki tapi mulai merencanakan apa yang akan dimiliki. Hidup adalah perjuangan yang tiada henti. Bila tidak mau berjuang hanya akan jadi asap yang hilang ditengah kabut tebal. Aku nggak mau jadi asap seperti itu. Walaupun hidup manusia itu singkat tapi adalah abadi segala sesuatu yang diwariskannya kelak. Sia-sia aja kalo hidup hanya mikirin diri sendiri.

All images provided by Corbis
Quote by Utopia - Serpihan Hati

Thursday, October 09, 2008

Drizzle Time and Sincere Love


Jogja hari ini mendung dan hujan, nggak panas seperti biasanya. Ini adalah hujan pertama sejak kemarau panjang di Jogja. Bagi aku hujan kali ini membawa suasana yang mellow sangat. Mungkin juga aku terbawa suasana. Langit yang redup dan bau aroma tanah yang selalu alami dan penuh kejujuran memang membangkitkan rasa itu. Kadang orang beranggapan perasaan kayak gini itu kampungan dan gombal, tapi biarlah toh orang lain pasti juga pernah mengalaminya. Hari ini aku sangat-sangat mellow dan mendengarkan musik-musik yang easy listening dan mencoba menggugah perasaan yang mendayu-dayu.

Hari ini juga aku mengunjungi temen lamaku di SMA. Setelah lama banget nggak main ke rumah dia. Tapi aku bukan mau nyeritain tentang dia. Ini adalah masalah ketulusan cinta (ingat, mellow mode : on).

"Duh ini kucing kok balik lagi sih, kan td udah aku kasih makan"
"Yod, itu kucing peliharaan kamu yang baru lagi ya"
"Bukan kok, cuma kucing tetangga, tapi sering kesini ya udah aku rawat aja"
"Kok ngeong-ngeong gitu?"
"Biasanya minta dielus-elus tuh"
(Yodhi mengelus-elus kucingnya)
(Kucingnya menggeliat-geliat dan nampakin ekspresi yang lucu banget)
"Mukanya kayak di film shrek ya yod"
"Iya, lucu banget ya"
"Kucing itu emang kalo disayang ngerti ya, nggak kayak manusia yang kadang nggak ngerti kalo disayang..."


Masalah cinta kadang emang binatang itu jagonya ya. Kalo seekor kucing misalnya dirawat dan disayang oleh manusia dia akan berbuat sama dan tidak lupa untuk membalas rasa sayang itu. Cinta seekor kucing pada manusia itu tulus lho. Tidak ada yang menjadi syarat, siapapun yang menyayanginya akan dia sayangi. Kucing Yodhi misalnya, meskipun Yodhi itu bukan majikannya tapi dia selalu datang ke rumah Yodhi dan menggembirakan Yodhi dengan kelucuannya. Cute banget ya ceritanya. Aku sendiri yang selama ini nggak pernah lagi punya peliharaan ngrasa seneng banget lihat situasi itu. Manusia dan kucing, mahluk berbeda spesies yang saling menyayangi.

Cinta memang universal dan seharusnya tidak ada batasan didalamnya. Tuhan sendiri mengajarkan untuk mencintai seluruh mahluk ciptaanNya. Jadi sungguh indah rasanya apabila cinta itu tidak bersyarat dan benar-benar tulus. Binatang yang (katanya...) derajatnya lebih rendah daripada manusia saja mampu membuktikan cinta yang tulus tanpa syarat. Entah mengapa masih jarang manusia yang mampu mencintai dengan tulus ya. Tapi memang untuk dicintai harus mampu untuk mencintai.

Aku jadi malu sendiri baca tulisanku kali ini. Mungkin suasana hari ini begitu mempengaruhiku. Aku merasa nyaman namun rasanya nggak bisa digambarkan. Akhir tahun memang selalu menjadi saat-saat reflektif pada diri manusia. Semoga tahun ini dapat aku akhiri dengan manis untuk memulai tahun baru yang lebih baik dan indah. Aku baru dengerin lagu Colbie Caillat yang superb, kalo mau ikutan denger klik disini.

Monday, October 06, 2008

Lost and Found


Nampaknya beberapa hari ini bisa dikatakan hari sialku. Setelah tragedi blender yang bikin rumah kotor semua dan bikin aku jadi harus bersih-bersih rumah, giliran flash disk aku yang tiba-tiba hilang data. Ya, beneran hilang, dan yang tersisa hanyalah karakter huruf aneh berbentuk folder-folder dan nggak bisa diakses. Istilah kerennya, kondisi ini dinamakan Partition Lost and Misread dan apapun itu udah sukses buat aku uring-uringan, kalut, dan marah-marah seharian. Setelah dipikir-pikir apa ya gunanya itu? Buang-buang energi aja.

Semenjak nemuin flash disk aku yang bermasalah ini aku mencoba postive thinking, yah mungkin aja drive usbnya baru error bentar. So, aku coba di komputer lain dan hasilnya sama, saat itulah aku mulai panik. Harus gimana nieh? Data penting semua ada disitu. Aku akhirnya cari akal dan coba pinjam program unerase di rental disk. Hasilnya semua nihil, program-program nggak ada yang bisa ngobatin flash disk aku tersayang ini. Aku makin putus asa, aku coba untuk kerahin segala yang aku tahu. Dan aku sadar mendadak jadi geblek dan itu menyakitkan sekali. Kejadian kayak gini udah pernah aku alami dulu sebelumnya, cuma aku lupa cara ngobatinnya.


Setelah segala macam program aku instal dan segala jenis command aku ketik nggak ada hasilnya semua, aku mulai bener-bener putus asa. Stres udah sampai diubun-ubun kepala, tinggal menunggu meledak. Bodohnya aku juga sih, belum sempat backup semua data ke CD. Memang sampai saat ini keadaanku yang belum punya komputer menjadi hambatan dan ancaman terbesar dari keselamatan data-data pentingku. Dulu, pamanku pernah dengan sengaja menghapus hampir seluruh data penting berikut dokumen-dokumen penelitian yang seluruhnya aku simpan di komputernya. Karena peristiwa itu aku selalu paranoid, dan my biggest fear terjadi hari ini. Flash disk, satu-satunya media penyimpanan yang aku andalkan tiba-tiba nggak mau berkompromi dan dengan seenaknya ngambek.

Emosi yang udah diubun-ubun kepala udah meledak. Siapa aja jadi sasaran, dan mendadak aku nggak mau ada orang dideketku. Ketika udah mulai dingin emosinya aku putuskan untuk mandi, setelah seharian nggak mandi (jorok!). Mandi memang membuat pikiran jernih dan emosi turun, sekarang tinggal rasa sedihnya. Cara mengatasinya yang mencoba ikhlas aja dan merelakan apa yang datang untuk hilang atau pergi. Ya itulah hidup, selalu datang dan pergi, nggak ada yang abadi. Sejujurnya kehilanganku saat ini masih bukan apa-apa dibanding apa yang dirasain orang-orang yang kehilangan sesuatu yang lebih besar.

Ternyata keikhlasan menerima sesuatu membuahkan hasil. Malamnya ketika buka internet, aku coba masukin keyword ke Google "flash disk data hilang fat12 recovery" dan voilà aku menemukan blog yang membahas masalah yang sama sepertiku. Dalam blog itu dijelaskan manfaat dan keunggulan dari program "Power Data Recovery" yang mampu membackup seluruh file yang terkena corrupt pada berbagai jenis partisi. Feeling aku program ini mampu menjadi superheroku, dan ternyata feeling itu benar. Aku coba versi trial program ini dan bekerja dengan bagus, hampir seluruh file yang corrupt dapat ditampilkan dan disimpan kembali. Gimana nggak seneng coba? Memang sesuatu yang diatasi dengan kepala dingin pasti akan mudah menemukan jalannya. Hari ini memang bener-bener pelajaran yang berharga buat aku. Moga-moga lain kali aku bisa lebih bijak.

PS: Buat temen-temen dan adik-adikku yang sempet aku omelin, mohon maaf ya atas kekhilafanku.

Friday, October 03, 2008

Nonton Laskar Pelangi Lagi...


Akhirnya kesampaian juga buat nonton film Laskar Pelangi lagi setelah sebelumnya beruntung dapat tiket premierenya. Kali ini lebih spesial lagi sebab menontonnya bersama keluarga yang otomatis jadi pesen tiket lebih banyak.


Film bagus memang harus ditonton terus. Menontonnya pun aku tidak bosan walau aku sudah hapal sebagian adegannya. Untuk acara menonton lagi kali ini aku harus rela disuruh antri tiket sejak pagi dan lari-larian seperti biasa untuk beradu cepat mengantri. Setelah dapat urutan ke-6 pun aku masih harus mengantri lagi. Tapi gpp lah demi kesempatan menonton lagi gratis (hehehe... <3). href="http://www.21cineplex.com/theater.cfm?id=238">bioskop di Amplaz yang cuma ada satu-satunya di Jogja memang cukup membuat masyarakat Jogja selalu kehabisan tiket.

Untuk mengantisipasi kehabisan tiket, aku mulai datang ke Amplaz bahkan semenjak mall ini buka. Waktu itu pukul 09.30 dan kelihatannya memang mall masih sepi, pintu depan juga masih dikunci. Aku coba masuk lewat pintu samping dan ternyata oh ternyata pengunjung mall udah berjubel. Melalui lift samping carrefour sampai juga aku di lantai atas tempat studio 21 berada. Disana sudah ada puluhan orang mengantri, dan ada juga pengumuman "Pembelian tiket tunai maksimal 9buah". What? Aku bingung juga, sebab aku harus membeli 11 tiket sesuai amanat.

Itu bukan satu-satunya masalah lho. Katakanlah masalah itu sudah teratasi ketika orang yang antri di belakangku bersedia dititipi 2 tiket. Ada masalah lagi, ternyata harga tiket hari itu Rp.25.000 sementara uang untuk beli tiket dikondisikan untuk harga tiket normal yaitu Rp.20.000 while I have no more money left that's become a big deal. Syukurlah akhirnya teratasi setelah aku memutuskan untuk beli tiket 10 biji dan mengantri kembali sebelum bala bantuan datang. That's quite challenging! Jam segitu bioskop udah penuh sesak manusia meskipun nggak sepenuh waktu premiere. Aku harus segera antri sebab jam 12 siang biasanya tiket sudah terjual habis, yang artinya aku terancam nggak ikut.


Acara antri tiket yang kedua kalinya ini berakhir dengan berhasilnya aku dapat 11 tiket sesuai amanat. Orang di belakangku sempat heran ketika melihat aku membawa banyak tiket, entah dongkol atau apalah. Hari ini nggak secapek kemarin antri tiketnya, karena memang aku datang pada waktu yang tepat. Keberuntunganku yang beruntun ini sempat pula dikomentari oleh beberapa orang yang (katakanlah) sirik. Mereka sebel pula melihat aku menonton Laskar Pelangi lagi. Aku sih no comment aja, toh aku nggak merugikan siapa pun dan I worth that.

Untuk pemutaran film yang kedua kalinya ini aku masih sempat menangis lagi, biarpun rasanya nggak sesedih kemarin. Gangguan suara bising pada studio juga masih terasa seperti kemarin. Kebetulan studio sebelah memang sedang memutar film yang bising. Mungkin sistem kedap suaranya kurang optimal. Layar bioskop juga agak kurang fokus seperti ada flicker, mataku sedikit sakit dibuatnya. Hal itu cukup mengganggu dan mengurangi kenikmatan menonton film di bioskop. Gangguan seperti itu tidak aku alami ketika menonton film di Anggrek XXI di Mall Taman Anggrek Jakarta. Sepertinya pihak Studio 21 Amplaz harus sedikit memperhatikan masalah ini. Tidak ada yang lebih penting selain memuaskan pelanggan kan?

Wednesday, October 01, 2008

Membedah Mata


Mata itu cerminan hati, ungkapan ini memang aku akui kebenarannya. Melalui mata manusia mampu melihat apa yang ada dibalik hati seseorang. Hal ini mungkin akan menjadi mengerikan atau menguntungkan bagi sebagian orang. Mata memang sulit sekali berbohong. Untuk itu seringkali aku melihat di televisi para penjahat menutupi wajah atau matanya karena merasa takut untuk orang lain melihat suatu kebenaran yang terpancar melalui matanya. Kekuatan mata memang begitu fantastis, ia adalah pintu gerbang dari segala sesuatu yang bersifat visual, letaknyapun berada di area otak.

Beberapa orang mampu untuk melihat seseorang itu berbohong melalui gerak-gerik bola mata. Konon katanya orang yang berbohong bola matanya cenderung ke arah kanan. Bola mata ke arah kanan menunjukkan seseorang sedang berusaha untuk menciptakan atau memikirkan hal-hal yang baru, oleh karena itu banyak seniman maupun ilmuwan yang bola matanya condong ke kanan saat sedang berpikir. Sinar mata juga merupakan suatu sarana untuk melihat maksud dan niat dari seseorang. Konon ada semacam kekuatan dan energi yang terpancar dari sinar mata manusia. Energi ini dapat berupa energi positif maupun negatif, orang yang bermaksud untuk berbuat kejahatan biasanya pancaran sinar matanya negatif. Memang begitu hebat kekuatan dari mata itu.


Mata juga merupakan alat komunikasi non-verbal yang efektif. Melalui kontak mata seseorang akan mampu menyampaikan maksud dan tujuannya kepada orang lain. Tidak ada bahasa yang secara spesifik menjelaskan bagaimana suatu kontak mata dapat menjelaskan sesuatu. Segalanya terjadi secara naluriah dan tanpa disadari, seperti ada kamus yang telah terekam di dalam otak manusia. Aku mengalaminya sendiri, saat sedang berkomunikasi dengan seseorang, ia mampu mengerti maksudku dengan jelas melalui kontak mata.

Banyak orang menganggap, memiliki organ penglihatan berupa mata adalah sebuah anugerah terbesar dari Sang Pencipta. Begitu banyak hal yang mampu dilakukan dengan bantuan penglihatan mata, bahkan hampir seluruh aktivitas manusia bergantung pada penghlihatan. Namun tak sedikit pula yang menganggap ini sebuah kutukan. Melalui mata terkadang manusia melihat suatu keburukan, pornografi misalnya. Orang yang buta semenjak lahir mungkin tidak akan pernah bisa membayangkan tubuh molek telanjang seorang wanita atau tubuh kekar seorang lelaki yang tanpa busana. Ya, itu hanya salah satu sisi saja, masih banyak keburukan-keburukan lain yang bisa dilihat melalui mata.

Pada salah satu episode "Para Pencari Tuhan Jilid 2" aku teringat ketika ada seorang buta ditanyai oleh dua orang wanita, "Bagaimana sih rasanya menjadi buta?". Dengan bangganya seorang buta menjawab, "Saya merasa begitu bersyukur menjadi buta, karena dengan itu saya telah terhindar dari segala macam dosa yang berhubungan dengan mata, saya telah terhindar dari tanggung jawab manusia untuk memiliki suatu penglihatan". Sungguh memang segala sesuatu itu memiliki tanggung jawab. Untuk itu pergunakanlah apa yang menjadi tanggung jawab itu dengan sebaik-baiknya.

Sumber Gambar:
DeviantArt
Corbis

Monday, September 29, 2008

Resensi Film Laskar Pelangi


Tanggal 25 September kemarin, aku termasuk dari sedikit orang yang beruntung mendapatkan kesempatan untuk menonton premiere Laskar Pelangi. Tentunya seneng banget rasanya, karena buat aku novel Laskar Pelangi memang sudah begitu spesial. Film yang diangkat dari bagian pertama novel tetralogi dengan judul yang sama ini memang begitu fenomenal. Pada postingan sebelumnya udah aku ceritain gimana menggebu-gebunya antusias dari warga Jogja untuk berebutan nonton film yang disutradarai oleh Riri Riza dan diproduseri Mira Lesmana ini.

Film berdurasi sekitar 2 jam ini menceritakan kehidupan 10 anak untuk mendapatkan pendidikan di salah satu pulau terkaya Indonesia, Belitong (bagian dari Provinsi Bangka Belitung). Bersama dua guru terkasih mereka, Ibu Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara) mereka berhasil membuktikan bahwa keterbatasan tidak mampu untuk menghambat semangat mereka untuk berprestasi dalam pendidikan.


Ikal, Lintang dan Mahar adalah salah satu dari murid-murid spesial di SD Muhammadiyah Gantong, bersama ketujuh teman mereka yang lain mereka tergabung dalam Laskar Pelangi. Mahar dengan cita rasa seninya yang tinggi berhasil membuat SD Muhammadiyah berprestasi pada Lomba Karnaval 17-an. Juga Lintang yang cerdas mampu menjadikan SD Muhammadiyah memenangkan perlombaan cerdas cermat, meskipun akhirnya nasib buruk menimpanya. Sementara Ikal yang terlibat asmara dengan seorang putri tionghoa. Keseluruhan kisah mampu terjamu secara apik dan mengharukan. Sinopsis selengkapnya, lihat disini..

Secara umum film ini memang mendidik sekaligus menghibur. Namun durasi film yang cukup singkat untuk sebuah adaptasi dari banyak kisah dalam buku Laskar Pelangi cukup banyak memangkas banyak cerita aslinya (sesuai dalam buku). Aku sedikit kecewa, pemangkasan cerita itu malah dibumbui oleh beberapa kisah yang tidak terdapat dalam buku. Mungkin itulah yang dinamakan adaptasi, tidak selalu berpatokan pada cerita asalnya.


Andrea Hirata sendiri mengatakan "Film Laskar Pelangi merupakan karya sineas film, bukan karya saya, sehingga saya tidak akan banyak ikut campur dalam pembuatannya". Anjuran aku, bila ingin lebih puas memaknai kisah Laskar Pelangi, lebih baik sebelum atau sesudah melihat film untuk membaca bukunya. Sejujurnya kisah Laskar Pelangi memang begitu panjang dan bermakna untuk diwujudkan dalam sebuah film.

Senada dengan Andrea Hirata, aku kini mulai memandang film dan buku Laskar Pelangi sebagai dua karya dari dua bidang seni yang berbeda. Baik film maupun bovel mempunyai kelebihan masing-masing, juga penggemar tersendiri. Dibanding film-film Indonesia lainnya yang bertebaran di bioskop saat ini, Laskar Pelangi mampu menyuguhkan tontonan yang lebih bermutu sekaligus mendidik. Ayo rame-rame tonton film ini di bioskop terdekat, tapi harus cepat-cepat karena tiketnya terbatas dan laku keras, hehehe.



Link:


Saturday, September 27, 2008

Not Just Ordinary


Cara orang merayakan sesuatu memang aneh-aneh ya. Baru-baru ini aku baca di mycityblogging.com ada sepasang pengantin yang merayakan pernikahannya di atas lokomotif kereta api yang meluncur dari Stasiun Tugu menuju Stasiun Lempuyangan. Hari gini memang saatnya untuk berinovasi, nggak jamannya lagi kawinan di genung pertemuan atau ditempat-tempat biasa. Pasangan ini memang tergabung dalam perkumpulan pecinta Kereta Api alias Railfan, jadi memang nggak aneh kalo mereka merayakan hari besar mereka pada hal yang memang mereka kagumi dan gemari.

Aku rasa sesuatu yang kreatif memang perlu mendapat apresiasi. Mungkin nantinya akan ada banyak orang yang mengikuti jejak pasangan pengantin ini. Bahkan aku rasa keunikan ini tidak hanya bisa diaplikasikan pada pernikahan, bisa juga pada perayaan ulang tahun atau bahkan sunatan. Tentunya selain bikin heboh akan dapat membuat suatu unforgettable moment yang akan dikenang selamanya. Memang semakin unik dan tidak biasanya sesuatu, maka itu akan dapat selalu diingat. Itu tak lain karena ingatan manusia susah untuk mengingat sesuatu yang terlihat sama dan semu.


Contoh mudahnya saja, siapa yang tidak kenal Nidji, The Changcuters atau bahkan Kangen Band? Tiga grup band ini mungkin salah satu dari sekian banyak grup band baru yang bermunculan di Indonesia. Apa yang membuat mereka selalu diingat? Tentunya adalah penampilan mereka yang tidak biasa. Nidji dengan style rambut kribonya yang telah menjadi trademarknya juga The Changcuters dengan aksi panggungnya yang heboh, gaya pakaian yang tidak biasa juga dan dua anggotanya yang sepintas kembar. Tak ketinggalah Kangen Band yang banyak dikritik atas penampilan mereka yang kampungan namun malah membuat selalu diingat sehingga albumnya laku keras.

Tak ada salahnya melawan suatu pakem, karena memang dunia selalu butuh hal yang baru. Untuk dapat berkompetisi salah satunya adalah berani beda. Dari sekian banyak hal yang serupa di kehidupan, maka menjadi beda adalah cara untuk menjadi center of attention. Berani beda juga berani berkreatif dan berkreasi, menciptakan sesuatu dengan mengolah atau memikirkan ide brilian dan berani merealisasikannya. Ayo berpikir kreatif dan berani beda!

Sumber foto : Yan Arief on Flickr