Showing posts with label social interest. Show all posts
Showing posts with label social interest. Show all posts

Tuesday, November 11, 2008

STMIK Achmad Yani, Bukan Lagi AMIK


Hari ini mungkin adalah yang bersejarah untuk kampusku. Sebab tepat pada 11 November ini, secara resmi kampus AMIK Kartika Yani berganti nama menjadi STMIK Jendral Achmad Yani. Pergantian nama ini juga disertai dengan penambahan jurusan baru yaitu S1 Teknik Informatika. Ini tentunya adalah suatu kemajuan yang cukup signifikan bagi kampusku yang selama ini tidak begitu dikenal walaupun udah pasang spanduk dimana-mana. Peresmiannya sendiri dihadiri oleh pemimpin Yayasan Kartika Eka Paksi, direktur AMIK Kayani, tamu undangan dan beberapa mahasiswa AMIK.

Peresmian diselenggarakan di lingkungan kampus AMIK Kartika Yani dan diadakan secara sederhana. Sepintas saat menghadirinya serasa sedang berada dalam resepsi pernikahan seseorang. Namun bedanya, tidak tampak bunga dimana-mana seperti layaknya resepsi pernikahan. Bunga hanya disematkan pada jas dan baju dosen maupun karyawan AMIK, hehehe. Acaranya dimulai sekitar jam 8.00 pagi, tapi tamu undangan baru lengkap datang sekitar pukul 10.00 pagi. Maklum lah, ini masih di Indonesia, negara yang kental sekali dengan budaya jam karet. Aku sendiri waktu itu duduk pada barisan tempat duduk yang mayoritas perempuan penghuninya. Tapi demi semangat kesetaraan gender, aku nggak peduli. Toh setelah itu ada beberapa juga mahasiswa yang ikut-ikutan duduk di barisan mahasiswi.

Acara kali ini harus disertai dengan hawa panas dan gerah yang nggak biasa di musim penghujan ini. Mungkin penyelenggaranya menyewa pawang hujan agar acaranya dapat berlangsung lancar. Tapi efeknya beberapa tamu undangan, khususnya yang berada di barisan mahasiswa-mahasiswi merasa begitu kegerahan. AC blower dan kipas angin hanya disediakan untuk tamu kehormatan, mahasiswa dibiarkan menderita. Namun yang penting kami semua berbahagia, selain bisa nyuri-nyuri waktu untuk ngobrol, juga merasa bangga akan kemajuan kampus kami tercinta ini. Waktu 4 jam jadi tidak terasa karena saking asyiknya.


Paduan suara mengiringi prosesi peresmian AMIK, Acacia choir namanya. Tapi apa mungkin karena kekurangan lagu atau maunya memang begitu, banyak lagu yang berulang-ulang kali disajikan. Empat buah TV layar datar dan lebar juga menghiasi panggung utama acara ini. Melalui alat itu ditampilkan animasi dan slide-slide yang cukup menarik tentang kampus AMIK Kartika Yani dan pergantian namanya. Animatornya memang handal dan tidak membuat malu predikat AMIK sebagai kampus ilmu komputer. Inilah yang harusnya dijadikan cerminan civitas akademia kampus AMIK.

Prosesi acara dimulai dari pelantunan lagu Indonesia Raya dan mengheningkan cipta yang selanjutnya diisi oleh pembacaan surat keputusan Dinas Pendidikan yang menyetujui pengajuan perubahan jenjang pendidikan kampus AMIK. Kemudian peresmiannya ditandai dengan penyarungan bendera logo AMIK dan pembukaan sarung yang menutupi bendera logo STMIK, cukup simbolis memang. Lalu direktur AMIK dilantik kembali menjadi direktur STMIK yang disertai dengan pembacaan janji kepemimpinan. Acara itu dirampungkan dengan pelantunan Mars dan Hymne STMIK Achmad Yani yang baru pertama kali ini kudengar. Singkat namun terasa padat juga.

Acara ramah tamah diwarnai dengan gosip menggosip oleh rombongan mahasiswi yang membahas satu persatu dosen dan mahasiswa yang lalu lalang. Cukup seru untuk disimak namun akhirnya membuat perut terasa keroncongan. Karena perut sudah tidak bisa ditolerir, akhirnya kami semua dipersilahkan untuk mengambil jatah makan siang yang dipersiapkan bagi tamu mahasiswa. Berbeda dengan tamu kehormatan yang menikmati hidangan prasmanan, kami semua boleh puas dengan menikmati nasi gudeg dalam kardus. Gudegnya lumayan enak (tapi aku cukup bosan dengan makanan ini!) dan yang lebih enaknya lagi, semua mahasiswa makan bersama-sama dalam gasebo, jarang-jarang ada momen seperti ini. Secara keseluruhan acara ini termasuk menyenangkan, selain gratis juga meriah. Musik techno dan trance ala dugem sempat pula menambah keramaiannya, entah apa maksudnya?

Semoga saja peresmian STMIK Achmad Yani kali ini disertai pula dengan peningkatan kualitas dan mutu akademiknya. Sehingga pergantian nama tidak hanya dimaknai secara simbolis tapi juga dapat diaplikasikan dalam kenyataannya. Pembangunan gedung baru turut juga menyertai acara ganti nama ini. Rencananya kompleks kampus akan dibangun lebih luas untuk mengakomodir kebutuhan jurusan baru maupun mahasiswa pada umumnya. Website AMIK Kayani pun rencananya akan berganti dari alamat www.kyani.ac.id menjadi www.stmikayani.ac.id. Cuma sementara ini belum online. Yah sukses deh buat kampusku!

I Miss Library...


Waktu udah menunjukkan petang, dan kakikku terasa pegel-pegel dan kesemutan akibat berjam-jam berada di Amplaz (Ambarrukmo Plaza). Bukan shopping atau melototin mahluk-mahluk seksi dan menarik disana yang aku lakukan, tapi adalah menyambangi toko buku merangkap perpustakaan tidak resmi (setidaknya bagiku), Gramedia. Berjam-jam baca sambil berdiri, jongkok, senderan, ngesot, dll. Membaca buku kadang bisa jadi sebuah candu bagiku, dan ketika asyik dengan sebuah bacaan rasa kesemutan dan pegel-pegel ini bisa terkamuflase dengan baik. Sampe akhirnya yang jadi korban adalah sepatu Airwalk yang lumayan mahal ini jadi ketekuk-tekuk dan berubah bentuk. Tapi tak apalah.

Buku yang aku baca kali ini adalah mengenai travelling. Hobi yang menarik nan menantang ini terpaksa tidak sering kulakukan karena faktor "U" (bukan Umur tapi Uang). Se-backpacker-backpacker-nya apapun tetep aja hobi ini terasa mahal bagiku yang sementara ini masih jadi pengangguran, hiks. Tapi aku berjanji jika ada kesempatan dan "U" aku akan menunaikan hobi ini dan membaginya kepada siapapun yang mau diajak berbagi. Namun kali ini aku nggak akan bercerita banyak tentang buku yang aku baca hari ini. Jika sodara-sodara pengen tau mending buka aja sinopsis buku "Naked Traveler" yang informatif dan sangat lucu ini.


Yang pengen aku bagi kali ini adalah mengenai perpusatakaan alias library. Nasib aku yang nggak berada di kalangan the have much tapi cuma berada di kalangan the have not too enough kadang begitu menyusahkanku untuk menuntaskan gairah membaca. Tipikal kota-kota kebanyakan di Indonesia, Yogyakarta kurang begitu memfasilitasi warganya dengan perpusatakaan. Sekarang spot favoritku untuk membaca buku hanyalah Toga Mas atau Gramedia yang terkadang bikin nggak enak hati karena dipelototin (diliatin sembari dibatin aja ding) penjaganya karena baca tanpa beli. Bersyukurlah karena aku tinggal di Indonesia, bukan di Jepang atau Cina yang penjual bukunya dengan kejam mengusir orang-orang macam aku ini dengan kemoceng atau sapu lidi. Sialnya baca gratis ini tidak menyediakan tempat duduk layaknya perpustakaan, jadinya relakan saja kaki keram dan snut-snut.

Seumur hidup aku belum pernah nemu perpustakaan yang nyaman dan komplit di Jogja maupun tempat-tempat lain yang pernah kukunjungi. Aku nggak tau apa mungkin aku yang kurang gaul atau apa. Yang jelas situasi ini sedikit banyak mencerminkan sikap warga masyarakat maupun pemerintah Indonesia yang tidak memperhatikan kepentingan membaca sebagai kepentingan publik yang perlu difasilitasi. Perpustakaan kampusku sendiri hanya berada pada ruangan seluar kamar kos dengan koleksi buku-buku yang nggak bisa diandalkan, karena saking tuanya atau kurang bermutu. Hal yang sama juga terjadi pada perpustakaan SMA, SMP, dan lebih parah lagi SD. Perpustakaan umum daerah juga tidak banyak membantu. Yang disimpan disana kebanyakan buku-buku tua, dan tempatnya juga minim cahaya juga berbau aneh dengan nuansa angker. Ini jelas-jelas bukan tempat yang menjadi pilihanku untuk menghabiskan berjam-jam waktu untuk membaca. Yang sedikit lebih mending mungkin perpusatakaan di LIP, meskipun kebanyakan bukunya berbahasa Prancis maupun Inggris tapi koleksinya lengkap dan tempatnya nyaman, bersih, juga tidak berisik. Tapi sayangnya perpustakaan ini khusus untuk anggota LIP, berbayar, dan birokrasinya (untuk meminjam) kadang-kadang sulit. Parah banget memang nasib perpustakaan di Indonesia.


Perpustakaan pada dasarnya adalah wadah bagi masyarakat untuk membaca dan memperoleh informasi. Aku yakin semangat ini ada pada setiap diri manusia, namun kadang redup ketika tidak terfasilitasi. Yang perlu digarisbawahi adalah tidak semua orang bisa membeli buku atau bahan bacaan untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Keadaan perpustakaan di Indonesia yang jarang dan tidak nyaman hanya akan menambah kelesuan budaya membaca, sehingga masyarakat menjadi semakin ketinggalan ilmu pengetahuan. Merosotnya ilmu pengetahuan hanya akan memicu keterpurukan suatu bangsa dalam segala bidang. Jadinya orang yang terlahir cerdas dapat tidak tahu apa-apa dan terjebak dalam kegelapan ilmu.

Oh, aku rindu sekali pada perpustakaan. Dulu aku punya banyak buku di rumah peninggalan paman, tante, nenek, ayah, dll. Tapi kini berangsur-angsur buku itu mulai rusak, hilang dan lenyap. Aku sih berusaha setiap kali punya anggaran lebih untuk membeli buku baru. Tapi lama-lama begah juga, kadang suka nyesek kalo lihat buku bagus di Gramedia/Toga Mas disegel dan nggak kebeli. Suka kadang pengen balas dendam, borong buku habis-habisan (sampe duit habis maksudnya, bukan stok habis) dan baca semuanya lalu ditata rapi di lemari. Beberapa kali aku sempat sih balas dendam, cuma kadang kecewa karena salah beli buku. Masalahnya ada beberapa buku yang cara penulisannya atau materinya kurang baik. Coba ada perpustakaan, kan nggak perlu beli. Membeli buku hanya membatasi hak seseorang untuk memperoleh informasi, seolah-olah hanya yang berduit saja yang berhak dapat informasi. Sungguh kenyataan yang sangat miris.


Sebenarnya sumber pengetahuan nggak hanya berasal dari buku. Bisa saja ilmu itu didapat dari obrolan ringan maupun browsing di internet. Namun obrolan ringan kadang memberikan ilmu yang lebih tidak relevan dan tidak terpercaya dibanding buku. Internet juga, meskipun banyak hal yang bisa didapat didalamnya, membaca teks di layar monitor tidak begitu baik untuk kesehatan mata. Internet juga sampai saat ini belum bisa diakses semua orang. Koneksi internet masih relatif mahal bagi sebagian orang, belum lagi fenomena gaptek yang masih mewarnai masyarakat Indonesia. Buku adalah satu-satunya penyelamat yang efektif. Aku sih berharap saja keadaan perpustakaan Indonesia di masa mendatang bisa sedikit menyejukkan. Tapi untuk bergerak sebenarnya kita semua bisa mulai dari sekarang. Percuma saja no action talk only, kalo emang belum bisa beli buku bisa usaha untuk patungan maupun menjadi anggota perpustakaan berbayar. Ilmu itu memang kadang mahal, tapi nantinya dapat menjadi dewa penolong di kemudian hari. Duh jadi inget ceramah subuh di radio tadi pagi.

Monday, November 10, 2008

Rien à écrire [part deux]


Tengah malam ini seperti biasanya masih berkutat dengan warnet. Tapi warnet yang dikunjungi kali ini lain, sebab menyediakan asap rokok pekat, asbak kotor dan sampah berceceran di kompie sebagai ekstra pelayanannya. Sebenernya aku sudah tahu tentang pelayanan prima ini sejak dulu kala, namun hari ini aku memutuskan untuk menikmati pelayanannya tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka (rangkanya siapa?) penghematan. Yups, di warnet ini menyediakan koneksi cepat namun dengan harga Rp.500 rupiah lebih murah pada happy hournya dibanding warnet kesayanganku itu.

Tapi ternyata it's not a brilliant choice by the way. Sebab ternyata pelayanan prima itu sukses bikin otakku tercuci dan nggak tau lagi harus nulis apa-apa yang bermanfaat. Tampaknya racun nikotin sudah menguasai setiap jengkal area dalam otakku dan membuatnya semakin bebal. Tapi tak apalah, toh aku masih bisa ber-YM ria dan bersua dengan kawan-kawan lamaku di berbagai penjuru dunia (berapa penjuru?). Dan sejujurnya aku cukup gembira karenanya. Ya, daripada bete mending gembira kan...


Karena bebalnya otak dan sempitnya pikiran pada malam ini. Maka kuputuskan saja untuk blogwalking, yang kali ini walking-walking banget. Acara blogwalking memang menjadikan banyak manfaat. Selain termotivasi menjadi blogger yang baik, aktif dan produktif, juga menambah teman blogger (meskipun sampai saat ini belum terlalu banyak *hiks). Aku sadar nggak ada sesuatu yang langsung tumplek menjadi sempurna, pasti selalu ada penyempurnaan. Jadinya aku berharap semoga sepinya blogku ini tidak mengurangi semangatku untuk menulis setiap harinya.

Dari acara blogwalking ini kuamati banyak juga blogger yang berkomentar seputar eksekusi mati pelaku bom bali beberapa waktu yang lalu. Komentar mereka diantaranya beragam, ada yang pro, sangat kontra dan netral. Kalo aku sendiri sih masuk ke kategori netral-netral kontra lah (gimana ya?), tapi memilih untuk nggak mendedikasikan posting untuk mereka. Masih banyak masalah yang perlu di share dalam postingan sih :P. Selain itu SMS-SMS bertebaran dimana-mana (yang kudengar sih). Tapi herannya SMS itu nggak mampir di hapeku, mungkin karena nomer ini masih untuk kalangan terbatas yah.. hehehee. SMS itu diantaranya berisi untuk mendoakan para mujahid (mujahid ya?) agar nyawanya diterima dan agar para pembaca SMS meneruskan perjuangannya (ngebom orang tak berdosa dimana-mana?). Segala hal yang diputer balik kayak gini termasuk tim sukses dalam penghancuran mood-ku untuk menulis hari ini.


Tiga hari yang lalu juga ada puting beliung (angin typhoon) di Yogyakarta. Tepatnya di seputar kawasan kampus UGM Yogyakarta. Angin itu sukses memporak-porandakan segala sesuatu disana. Gerobak-gerobak para PKL (pedagang kaki lima, bukan praktek kerja lapangan - some indonesian abbreviation error), motor-mobil mahasiswa, genting-genting bangunan UGM, juga pohon-pohon yang tumbang. Ketika kejadian itu aku nggak termasuk saksi mata, sebab aku sedang window shopping di Amplaz (*hehehe). Mungkin inilah yang tampak di depan mata sebagai bahaya dari efek perubahan iklim. Tingkatkan saja kesadaran kita semua agar bumi menjadi semakin ramah dan nyaman untuk ditinggali. Pokoknya stop Global Warming bersama-sama!

Kiranya itu saja hasil dari begadang hari ini. Kuputuskan untuk segera pulang ke rumah biar badan bugar di pagi harinya (bukannya sekarang udah pagi ya?). Moga-moga lain waktu aku nggak semakin bosen untuk posting. Komentar, saran, pendapat, makian, dan hujatan ditunggu-tunggu selalu kehadirannya lho. Tetep semangat nge-blog dan selamat Hari Blogger Indonesia! Tapi kayaknya aku nggak ikutan PestaBlogger, sebab kondisi pekenomian sedang resesi habis, doain tahun depan bisa ikut.

Sunday, November 09, 2008

Asal British

Pada suatu tayangan iklan produk seluler di televisi:
"Hallo mister... Agus!"
"Me? Good-good only"
"Talking-talking... You know, David Beckham?"
"Say hello from Agus ya!"
Budaya berbahasa Indonesia saat ini udah kacau banget. Penggunaan istilah asli bahasa Indonesia udah mulai ditinggalkan dan dianggap kuno. Masyarakat Indonesia saat ini lebih senang memakai kata "sharing" daripada "berbagi" atau "education" daripada "pendidikan". Sebagai blogger, aku kadang juga merasa bahwa aku ikut-ikutan budaya ini. Padahal itu sangat-sangat mengancam eksistensi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia. Punahnya Bahasa Indonesia berarti adalah punahnya kepribadian bangsa Indonesia. Apa lagi yang bisa dilakukan selain menyelamatkannya sebelum terlambat.

Badan Pengembangan Bahasa Indonesia sendiri telah setiap waktu berusaha untuk menemukan atau menciptakan padanan istilah asing yang masuk dalam budaya bangsa Indonesia. Misalnya adalah penemuan istilah "galat" untuk menggantikan istilah "error" yang saat ini sangat luas dipergunakan. Namun nampaknya itu hanya akan berakhir sebagai penemuan tak bermanfaat saja, karena kurangnya sosialisasi. Sosialisasi untuk menggunakan padanan kata Bahasa Indonesia sebenarnya ditujukan agar nantinya masyarakat lebih familiar dan akhirnya akan tercipta rasa bangga berbahasa Indonesia. Selain itu pemuktahiran Bahasa Indonesia dan penggunaannya secara luas akan mencegah kemungkinan bahasa ini akan punah di kemudian hari.


Sebagai contoh bisa dilihat dari langkah modernisasi bahasa yang disosialisasikan Mustafa Kemal Atatürk untuk bangsa Turki. Beliau mencoba memperkenalkan alfabet baru sebagai pengganti penggunaan abjad Arab dan memperkenalkan istilah baru yang lebih "Turki" untuk menggantikan istilah-istilah yang merupakan pinjaman dari bahasa lain. Sehingga sampai-sampai beliau dijuluki sebagai bapak Turki yang menjadikan Turki menjadi lebih modern dan nasionalis. Dan langkah beliau ini terbukti sukses membawa Turki menjadi bangsa dan negara yang maju dengan rakyat yang bangga menggunakan bahasa Turki meskipun tidak berada di negara Turki sekalipun. Hal inilah yang sebenarnya patut dicontoh oleh bangsa Indonesia. Sayang sekali sampai saat ini Mustafa Kemal Atatürk hanyalah satu-satunya dan hanyalah milik Turki. Semoga saja nantinya akan ada Mustafa Kemal Atatürk yang lainnya di Indonesia.

Keparahan dan kekacauan yang terjadi dalam ber-Bahasa Indonesia, yaitu dengan penyisipan istilah asing (atau lebih dikenal sebagai Gado-Gado bahasa) seringkali dibarengi oleh kesalahan penggunaannya. Bahkan pengejaannya dan lafalnya seringkali tidak beraturan dan tidak tertata. Ini akan menimbulkan kesan bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa yang tidak terstruktur dan memicu orang untuk terus salah menggunakannya. Akibatnya mungkin akhirnya Bahasa Indonesia hanya akan berakhir sebagai bahasa Kreol.

Saya sungguh benar-benar malu. Sedikit banyak budaya ini sudah mempengaruhi saya dalam menulis atau berbicara. Budaya salah ini pada dasarnya didasari oleh anggapan bahwa menggunakan istilah asing akan terasa selangkah lebih maju dibanding orang lain. Padahal belum tentu yang diajak berbahasa mengerti apa yang dimaksud. Dan saat sudah mengetahui artinya, akhirnya merekapun ikut-ikutan untuk menggunakannya. Oleh mereka istilah-istilah yang dulunya lazim digunakan, suatu saat menjadi istilah yang terasa aneh dan terlupakan. Akhirnya Bahasa Indonesia hanya akan dipenuhi istilah-istilah asing dan semakin berkurang kosa kata asalnya.


Sebenarnya artikel ini bukan ditujukan untuk menanamkan sikap anti bahasa asing. Namun lebih pada sosialisasi penggunaan bahasa yang baik dan benar. Jika memang berniat berbahasa Inggris, Spanyol atau yang lain, gunakan pada kalimat secara utuh dan berusaha mencari padanannya dalam bahasa Indonesia. Atau bisa juga mencoba langkah seperti dalam kalimat ini "Bahasa Jawa adalah bahasa yang lazim digunakan oleh suku Jawa, suku indigenous atau suku asli pulau Jawa bagian tengah dan timur. Kata indigenous disini disertai dengan padanan kata "asli" sehingga penggunaannya dapat sekalian dikenal dan disosialisasikan. Pengembang bahasa juga harus lebih aktif bekerja untuk mencari padanan kata istilah asing dalam Bahasa Indonesia, tentunya juga harus dibantu oleh seluruh bangsa Indonesia kan. Bagaimanapun ini adalah bahasa kita semua!

Intinya boleh saja menggunakan bahasa gaul atau gado-gado, tapi sebagai orang Indonesia yang baik, bahasa formal tetap harus selalu dipelajari dan dipahami. Sehingga berbahasa Indonesia itu tidak asal british dan ngawur-ngawuran. Berbahasa Indonesia yang baik dan benar niscaya lebih dihormati oleh bangsa asing. Sebab itu akan menunjukkan pribadi bangsa Indonesia yang bangga karena memiliki bahasa Indonesia. Marilah berbahasa Indonesia yang baik dan benar!

NB : Jujur, artikel ini nampar banget ketika sedang kupikirkan dan akhirnya kutulis. Semoga dengan artikel ini, pembaca maupun aku sendiri bisa semakin memahami dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Komentar, saran dan sudut pandang lain dibuka lho untuk disampaikan oleh semua pembaca!

Friday, November 07, 2008

Hak untuk TIDAK Menghirup Asap Rokok


Merokok mungkin mengasyikkan bagi sebagian orang. Di Indonesia sendiri, rokok telah menjadi candu bagi banyak orang. Rokok yang sebenarnya merupakan racun ini kadang menimbulkan masalah tersendiri bagi orang-orang yang bukan perokok. Di dalam asap rokok terdapat utamanya terdapat gas karbon monoksida dan zat nikotin yang otomatis akan meracuni orang yang menghirupnya meskipun bukan perokok. Oleh karena itu sebenarnya adalah suatu hal yang wajar bagi orang-orang "bukan perokok" memperjuangkan hak-haknya untuk hidup sehat tanpa asap rokok. Dan mestinya hak itu dihormati oleh para "perokok".

Aku sendiri termasuk orang yang "bukan perokok" dan setiap hari musti menghadapi hidup tanpa bebas dari asap rokok. Ketika di bus, di jalan umum, bahkan dirumahku sendiri. Dulu aku begitu jengkel ketika ayahku dengan seenaknya merokok di dalam rumah dan mencemari udara yang harusnya segar. Kini sepeninggalnya beliau, masih ada saja orang yang suka nongkrong di dekat rumah dan membawa asap rokok masuk ke rumah. Sungguh merupakan keprihatinan yang besar bagiku. Saat ini seluruh keluargaku di dalam rumah tidak ada yang merokok, tapi harus menghadapi ancaman kesehatan yang ditimbulkan dari racun asap rokok. Padahal penyakit yang bisa ditimbulkan oleh asap rokok sangat banyak, diantaranya angina, asma dan alergi. Kalo udah sakit siapa yang harus tanggung jawab coba~


Aku sadar dengan sepenuhnya bahwa merokok adalah hak asasi setiap orang. Tidak ada satupun hak yang diberikan padaku atau orang-orang "bukan perokok" lainnya untuk memaksa seorang "perokok" tidak merokok atau berhenti merokok. Tapi kesehatan juga adalah bagian dari hak asasi manusia. Mustinya kedua hak ini tidak saling berbenturan dengan saling menghargai dan menjunjung tinggi hak masing-masing. Untuk itu aku berusaha netral dalam mengutarakan pendapatku tentang masalah ini. Yaitu dengan mengambil sudut pandang tengah yang bersifat adil satu sama lain.

Sebagai "perokok" sebaiknya membiasakan sikap-sikap seperti ini:
  • Tidak merokok di ruang publik yang didalamnya terdapat anak-anak, maupun orang yang bukan perokok.
  • Menggunakan fasilitas ruang merokok yang disediakan.
  • Tidak merokok di tempat yang menjadi fasilitas umum.
  • Tidak merokok didalam rumah yang didalamnya biasa menjadi tempat keluarga berkumpul.
  • Menyiapkan asbak setiap kali merokok agar tidak mengotori lingkungan.
  • Menghormati "bukan perokok" dengan bersikap sopan dan meminta diri ketika akan merokok.
  • Menghormati peraturan pada tempat yang didalamnya terdapat larangan untuk tidak merokok.
  • Tidak merokok di ruang tertutup tanpa ventilasi udara.

Sebagai "bukan perokok" mustinya juga melakukan hal seperti ini:
  • Tidak mendeskriminasikan para "perokok" dan memberikan penghakiman.
  • Tidak menunjukkan sikap kurang sopan ketika bertemu "perokok" yang merokok sembarangan.
  • Mampu menegur dengan halus dan tidak menyinggung perasaan ketika hak untuk sehatnya dilanggar.
  • Berusaha menciptakan suasana yang mendukung bagi "perokok" yang ingin berhenti merokok.
  • Memberikan dukungan dan motivasi bagi "perokok" untuk menghentikan kebiasaan merokok.
Selain itu pemerintah juga harus:
  • Menyediakan ruang merokok di fasilitas publik sehingga para "perokok" dapat dengan bebas menggunakan haknya untuk merokok.
  • Membuat undang-undang yang mampu melindungi hak warganya yang "bukan perokok" untuk hidup sehat tanpa asap rokok.
  • Menciptakan suasana kondusif bagi sosialisasi kampanye anti-merokok.
  • Memberikan peraturan lebih ketat bagi produsen rokok untuk mencantumkan bahaya merokok yang lebih informatif.
  • Melindungi anak-anak usia dini untuk tidak merokok dengan memberlakukan inspeksi dan peraturan ketat di sekolah maupun ruang publik.
  • Mensosialisasikan budaya anti-rokok.

Child Trafficking


Masih berhubungan dengan kasus pernikahan Ulfa. Aku begitu miris ketika menyadari bahwa perdagangan anak masih marak di negeri ini. Anak yang seharusnya dapat dengan bahagia menjalani masa kecilnya, harus dihadapkan pada kenyataan hidup mereka yang gelap. Mereka (para anak-anak di bawah umur) dipaksa untuk bekerja paksa, menjadi budak, bahkan menjadi pemuas nafsu seksual para hidung belang (pria atau wanta). Sungguh mengerikan memang praktek trafficking alias perdagangan manusia ini. Apalagi jika yang jadi korbannya adalah anak-anak.

Dulu aku pernah baca di koran (lupa nama, judul, maupun tanggalnya) bahwa di Cina ada sekelompok anak-anak yang dipaksa bekerja di pabrik keramik dan genting bahkan hingga usianya mencapai 30 tahun lebih. Ketika diketemukan, kondisi mereka sudah kurus kering dan sakit-sakitan karena puluhan tahun bekerja paksa. Sungguh tidak terpikirkan kalo ini harus dihadapi oleh anak-anak Indonesia. Tetapi inilah kenyataan yang benar-benar terjadi di Indonesia. Banyak anak yang harus putus sekolah karena dipaksa bekerja, bahkan oleh orangtua kandung mereka sendiri. Alasannya apa lagi kalo bukan masalah ekonomi. Karena perekonomian keluarga yang buruk anaklah yang harus menanggung semua.


Pada Undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2002 tentang Pelindungan Anak pasal 4 jelas-jelas disebutkan bahwa "Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi". Undang-undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 1 juga menyatakan bahwa Anak adalah setiap orang yang berumur dibawah 18 (delapan belas) tahun", artinya sebelum umur 18 tahun (berarti aku bukan anak-anak lagi ya! pake nanya lagi) mereka belum diperbolehkan untuk bekerja. Namun kenyataannya undang-undang ini hanyalah berakhir sebagai kertas bisu yang tidak berfungsi apa-apa. Pemerintah belum mampu melindungi warga-warganya dibawah umur untuk tidak memperoleh kekerasan dan diskriminasi. Padahal kenyataan itu terpampang jelas di dalam kehidupan sehari-hari. Di perempatan jalan dapat dilihat anak-anak usia sekolah bahkan bayi yang dipaksa ikut mengemis atau mengamen. Sungguh sebuah kenyataan yang pedih dan menyayat hati, di jaman kemerdekaan ini beberapa anak-anak masih belum menikmati kemerdekaan.


Berbicara masalah gepeng (gelandangan dan pengamen) anak-anak, aku pernah mendengar bahwa ada beberapa pihak yang memanfaatkan mereka untuk transplantasi organ. Ya, transplantasi organ, anda tidak salah dengar. Anak-anak tersebut dipaksa untuk diambil ginjal, kornea, dan organ-organ mereka yang lain untuk dimanfaatkan sebagai transplant organ. Beberapa dari anak-anak itu terpaksa menjalani hidup mereka dengan kondisi catat, juga ada pula yang terenggut jiwanya. Memang sadis sekali pihak yang mempraktekkan hal ini. Akan tetapi sayangnya nasib mereka kadang terabaikan dan hanya berakhir sebagai buah bibir.

Tidak hanya gepeng, ada pula anak-anak dari keluarga bahagia yang diculik dan dieksploitasi. Mereka direnggut dari keluarganya dan dijadikan budak untuk pekerjaan kasar. Ada pula yang dipaksa menjadi pekerja seksual di bawah umur. Akhirnya yang terjadi adalah mereka tumbuh menjadi pribadi liar dan menjalani kehidupan yang gelap. Sudah terampas seluruh hak-hak asasi mereka sebagai manusia dan anak-anak. Kemalangan ini harus dialami oleh banyak anak-anak di Indonesia yang harusnya hidup bahagia dan tumbuh bersama keluarga mereka.

Menyadari kenyataan tersebut seharusnya pemerintah dan masyarakat harus mulai bertindak. Tidak ada yang lebih penting selain melindungi generasi muda bangsa Indonesia. Merekalah yang akan menentukan masa depan Indonesia. Bentuklah organisasi yang mampu menjamin pendidikan anak-anak dan kesejahteraan mereka. Kumpulkanlah anak-anak yatim piatu untuk ditampung di tempat yang benar, seperti pesantren atau asrama misalnya. Dan bagi orang tua, luangkanlah waktu untuk lebih mempedulikan anak-anak. Jangan sampai ada lagi anak yang menjadi korban trafficking kelak, marilah kita bertindak sekarang.

Baca Undang-undangnya di:
Undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2002 tentang Pelindungan Anak
Undang-undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Beca tentang human trafficking di:
Human Trafficking - Wikipedia, the free encyclopedia

Wednesday, November 05, 2008

If The World Could Vote


Baru saja seluruh warga negara Amerika Serikat dari berbagai negara bagian melaksanakan pemilihan presiden mereka yang ke-56. Pemilihan presiden Amerika Serikat telah lama menjadi buah bibir oleh banyak negara di penjuru dunia. Memang tidak ada yang lebih menghebohkan selain pemilihan presiden Amerika Serikat. Sebab Amerika Serikat dan presidennya memiliki peran besar terhadap percaturan politik dunia dan banyak bidang lain yang juga terpengaruh. Sejak lama prediksi, debat capres, juga opini masyarakat Amerika Serikat dipantau oleh banyak stasiun TV dunia. Pemilihan itu berkaitan dengan calon presiden dari dua partai berpengaruh di Amerika Serikat, yaitu partai Republik dan partai Demokrat.

Dalam pemilihan presiden Amerika Serikat kali ini ada sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya, seorang kulit hitam mencalonkan diri sebagai presiden Amerika Serikat. Calon presiden itu bernama Barrack Obama, seorang blasteran kulit hitam yang memiliki keterkaitan dengan Islam, Indonesia dan bangsa kulit putih. Dilahirkan di Hawaii oleh ayah keturunan Kenya dan ibu orang kulit putih Amerika, Obama sempat pula dibesarkan di Indonesia, meskipun sebagian besar pendidikannya ditempuh di Amerika Serikat. Sejak lama pencalonan diri Obama telah mengundang kontroversi, diantaranya adalah banyak orang mempertanyakan latar belakang agamanya dan keterkaitannya dengan Islam. Isu rasis juga menyertai pencalonan diri Obama, yang berdarah campuran dan berkulit hitam.


Namun belakangan banyak orang yang memprediksikan Obama sebagai calon kuat presiden Amerika Serikat. Krisis global yang turut membawa nama buruk bagi pemerintahan Bush dan partai Republik memberikan keuntungan tersendiri bagi Obama. Prediksi suara yang akan didapat Obama meningkat pesat. Aspirasi masyarakat untuk memilih Obama menjadi semakin tinggi. Tidak hanya di Amerika Serikat, popularitas Obama telah melanglang buana di seluruh belahan dunia. Dengan itu, peluang Obama untuk duduk sebagai presiden Amerika terbuka semakin lebar.

Belakangan banyak media Internet yang ikut mempromosikan Obama. Setelah Plurk yang memberikan layanan Plurk The Vote-nya. Kali ini aku menemukan lagi portal yang memfasilitasi seluruh warga dunia untuk ikut memilih presiden Amerika Serikat. Portal itu bernama If the world could vote?. Tentu saja seluruh warga dunia tidak benar-benar ikut memilih. Namun melalui situ ini dapat dilihat bagaimana antusias warga dunia terhadap pemilihan presiden Amerika Serikat juga untuk memilih calonnya sendiri. Melalui situs tersebut terlihat bahwa Obama mendapatkan suara terbesar oleh setiap negara di dunia. Apakah ini berarti Obama akan menang? Bisa jadi iya, apalagi jika seluruh dunia dapat benar-benar ikut memilih. Siapa tahu suatu saat Amerika Serikat mengijinkan setiap warga dunia ikut memilih.


Waktu tulisan ini dibuat, mungkin panitia pemilu sedang menghitung jumlah suara Obama dan McCain. Seluruh warga Amerika Serikat sedang berharap-harap cemas apakah calon presiden pilihannya dapat menang. Aku sendiri juga ikut cemas, tapi aku lebih cemas lagi atas nasib dunia saat ini. Semoga saja siapapun presiden Amerika Serikat yang terpilih dapat memberikan perubahan positif bagi Amerika Serikat maupun dunia. Jika memang benar Barrack Obama yang terpilih maka ia akan didampingi oleh Joe Biden dalam memimpin gedung putih. Ya semoga saja lah!

Sumber foto: Corbis dan IfTheWorldCouldVote.com


Saturday, November 01, 2008

Railfan : The Iron Horses Lover


Beberapa waktu yang lalu aku sempat posting tulisan mengenai sepasang railfan yang menikah diatas lokomotif yang berjalan lambat dari Stasiun Tugu ke Stasiun Lumpayangan di Yogyakarta. Komunitas railfan memang begitu eksentrik dan unik dalam mengekspresikan kecintaan mereka terhadap kereta api. Bahkan ada yang berjam-jam menunggu kereta api lewat di perlintasan rel hanya untuk mengagumi keberadaannya. Untuk yang satu ini aku memang pernah mengalaminya. Waktu kecil dulu, aku adalah seorang railfan sejati. Setiap pagi buta aku selalu merenget pada kakekku tercinta untuk diantar melihat kereta api melintas di bawah fly-over Lempuyangan.

Sejak mesin uap pertama kali ditemukan oleh James Watt dan lokomotif bermesin uap ditemuka oleh George Stephenson, kereta api telah menjadi sarana transportasi masal yang menyita perhatian. Alat transportasi yang terdiri dari lokomotif berserta rangkaian gerbong dan berjalan pada jalur rel ini langsung menjadi sarana yang efektif pada awal kemunculannya. Kereta api bahkan merupakan sarana yang membantu mobilitas bangsa Belanda untuk menaklukan tanah jajahannya, termasuk Indonesia ini. Seringkali aku memperhatikan banyak bekas jalur kereta yang nggak dipakai lagi di Jogja ini. Itu adalah bukti bahwa jaman dulu, kereta api itu fungsi dan perannya sangat besar.


Para pecinta kereta api biasanya memiliki alasanya sendiri-sendiri untuk hobinya ini. Secara gamblang, kecintaan mereka ini dapat diungkapkan melalui kegemaran memotret kereta api, melihat kereta api dan membuat model miniatur kereta api. Mereka sering juga mengunjungi bekas-bekas jalur kereta, menonton lokomotif bekas, dan ada pula yang gemar mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan kereta api, misalnya sejarah dan konstruksinya untuk kemudian didiskusikan bersama. Ferroequinology (ferro: besi, equino: kuda, logy: ilmu) adalah istilah yang merujuk pada ilmu yang mempelajari perkeretaapian, khususnya lokomotif, para pembelajarnya disebut ferroequinologist. Di Indonesia sendiri Museum Kereta Api Ambarrawa merupakan surga bagi para railfan. Cukup unik memang melihat tingkah para railfan, kadang terkesan childish. Salah satu varian railfan adalah metrophile yang secara spesifik lebih cenderung pada subway atau kereta api bawah tanah. Menurut Wikipedia, ada seseorang metrophile bernama Darius McCollum yang berani untuk menyamar menjadi pegawai subway New York hanya untuk bisa mengemudikan kereta, memperbaikinya, dan membantu pekerja subway lain. Karena melanggar hukum akhirnya dia dipenjarakan.


Bagaimanapun juga hobi ini perlu mendapatkan aprsiasi. Menurutku orang yang dapat mengekspresikan ketertarikan dan minatnya adalah orang yang paling bahagia. Dan menjadi railfan aku rasa akan sangat seru dan menyenangkan. Railfan tidak berbeda dengan para pendaki gunung yang mencintai alam pegunungan. Mereka sama-sama memiliki ketertarikan yang sulit dipahami oleh pandangan awam. Apalagi jika mereka sampai mau mengeluarka berpuluh-puluh bahkan ratusan juta untuk membeli dan menyusun model kereta api yang mereka gemari. Tapi menurutku ini wajar saja kok, bila bicara masalah hobi, tidak ada hal yang terasa kelewatan. Vive Ferroequinophile!

Sumber gambar Corbis dan koleksi pribadi

Friday, October 31, 2008

Oleh-oleh dari Suami


Masih inget kasusnya Ratna Damayanti yang nangis-nagis menggugat cerai sebab suaminya udah nggak peduli dengan keluarga dan malah berselingkuh dengan wanita lain. Dia mengatakan bahwa atas perselingkuhan itu dia dihadiahi penyakit kotor oleh Rizky The Titan akibat berhubungan intim dengan banyak wanita. Terlepas dari berita itu benar atau salah, kasus itu merupakan suatu frame yang saat ini banyak ditemukan pada keluarga-keluarga muda di Indonesia. Pasutri dengan suami selingkuh yang kemudian istri menderita penyakit menular seksual atau bahkan terinfeksi HIV. Sungguh malang memang, di jaman yang katanya sudah menjunjung tinggi persamaan gender ini, keadaan seperti itu masih dapat dengan mudah dijumpai.

Malam ini, acara Kick Andy di MetroTV sedikit banyak membahas pula isu serupa. Dimana sang istri yang tidak tahu menahu apa-apa tiba-tiba saja harus menghadapi kenyataan dirinya mengidap penyakit akibat terinfeksi virus HIV. Belum lagi bayinya yang tidak berdosa memiliki kemungkinan lebih dari 30% untuk terinfeksi. Sungguh malang benar keadaan ini, hak manusia untuk bisa menikmati hidupnya dengan sehat telah ditindas oleh karena ketidakmampuan suami untuk menjaga diri dan pasangannya. Belum lagi, si jabang bayi yang kemungkinan besar terinfeksi juga harus menderita ketika baru beberapa detik datang ke dunia. Ketimpangan gender kadang memang menimbulkan keprihatinan luar biasa bagiku.


Saat ini resiko bagi istri untuk tertular PMS maupun HIV dari pasangannya cukuplah tinggi. Elizabeth Pisani penulis buku Kearifan Pelacur, seorang ex-wartawan Reuters yang hadir pula dalam talk show Kick Andy memprediksikan bahwa ada sekitar 60% suami yang terlihat baik-baik saja kelakuannya yang menggunakan jasa pekerja seks wanita bahkan waria. Untuk itulah keadaan ini perlu dicermati keberadaannya. Apakah terasa adil saat seorang istri lugu di desa tiba-tiba mendapat kabar suaminya sakit-sakitan oleh infeksi HIV dan mendapati dirinya beresiko tinggi? Memang saat ini kaum wanitalah yang banyak ditindas haknya dalam isu HIV/AIDS.

Oleh karena dapat disimpulkan bahwa untuk menghentikan penindasan atas hak-hak perempuan, perlu ditanamkan persamaan gender dalam penanggulangan kasus penyebaran HIV/AIDS yang semakin marak. Sudah saatnya istri diberi hak untuk mengetahui status kesehatan pasangannya lebih dini. Begitu pula para suami yang harus bersikap arif ketika memutuskan untuk menggunakan jasa pekerja seks yaitu dengan melindungi diri sendiri dan pasangan (memakai pengaman/kondom). Untuk pengguna narkoba suntik (injecting drug user) mulailah untuk tidak bersikap bodoh dengan membiarkan diri berada pada resiko tinggi akibat penggunaan jarum suntik bergantian. Penyebaran HIV/AIDS sebenarnya merupakan rangkaian kelalaian-kelalaian manusia untuk melindungi diri sendiri. Ketika seseorang terinfeksi HIV maka akan ada puluhan bahkan ratusan orang disekitarnya yang menjadi beresiko untuk tertular juga.


Salah satu kabar menggembirakan adalah ketika kudengar sudah ada female condom yaitu sejenis kondom yang didesain bagi wanita. Dengan female condom maka wanita diberi hak untuk melindungi dirinya sendiri atas penyebaran HIV/AIDS. Maka, bila pasangan maupun suami menolak untuk menggunakan kondom saat berhubungan seksual, wanita punya kewenangan untuk melalukan tindakan alternatif perlindungan diri, salah satunya adalah dengan menggunakan alat ini. Lebih menggembirakan lagi bahwa sekarang resiko bayi tertular HIV dapat ditekan hingga kurang dari 2% melalui program yang dinamakan Preventing Mother To child Transmission (PMTCT) atau program pencegahan penularan dari ibu ke anak. Tentunya program ini sangat membantu melindungi hak-hak anak-anak untuk sehat. Jangan sia-siakan generasi muda suatu bangsa dengan membiarkannya terinfeksi HIV. Program PMTCT perlu disosialisasikan lebih keras, agar nantinya tidak ada lagi bayi yang terinfeksi akibat perbuatan kedua (atau salah satu dari) orangtuanya.

Masalah HIV/AIDS adalah masalah kita semua, bahkan bagi yang tidak beresiko sekalipun. Untuk memberantas penyebaran virus HIV, perlu ditanamkan kearifan sosial. Bukan saatnya lagi mengkotak-kotakkan waria, pekerja seks, homoseksual dan pengguna narkoba sebagai penyebar HIV. Semua orang dapat terinfeksi HIV tanpa harus dibeda-bedakan perilakunya, orientasi seksnya, juga posisi sosialnya dalam masyarakat. Inilah saatnya mewujudkan toleransi dan solidaritas antara ODHA dan bukan ODHA, juga antara kelompok beresiko dan tidak beresiko. Sekali lagi HIV/AIDS adalah masalah global. Masyarakat perlu mendukung para ODHA untuk hidup lebih sehat dan mampu untuk mendapatkan kembali fungsi sosialnya. Salah satunya adalah kasus ARV yang saat ini mulai langka. Kasus ini harus dituntaskan oleh seluruh elemen masyarakat, karena ODHA juga adalah bagian dari masyarakat. Mereka juga adalah manusia.

Heran ya kenapa sih sekarang aku begitu sensitif atas masalah-masalah sosial yang ada disekitarku. Lihat Kick Andy aja sampe kebawa nulis artikel ini, hehehe...

Referensi :
Acara talk show Kick Andy
"KEARIFAN PELACUR" di Metro TV hari Jumat, 31 Oktober pukul 21.30WIB
Yayasan Spiritia
Wikipedia tercinta

Sumber gambar pasti dari Corbis lah

Thursday, October 30, 2008

Halloween Creepy Time


Bulan Oktober memang bulannya Halloween. Halloween atau All Hallow Eve adalah festival yang lazin dirayakan di Amerika Utara khususnya Amerika Serikat. Biasanya Hallowen dirayakan setiap tanggal 31 Oktober atau malam sebelum hari raya Katolik yaitu Hari Semua Orang Kudus (All Hollow), dari situlah asalah nama Halloween. Asalnya Halloween merupakan tradisi paganis untuk merayakan musim panen yang dibawa oleh orang Celt dari Irlandia, Britania dan Perancis. Halloween selalu identik dengan mahluk menyeramkan dari dunia barat, seperti penyihir, goblin, setan, monster, dll. Labu Jack O'Lantern adalah simbol yang identik Halloween. Di Indonesia sendiri Halloween kurang dikenal namun mulai diperkenalkan melalui penyebaran pengaruh kebudayaan Amerika. Contohnya dapat dilihat saat ini, banyak TV yang mulai menjadikan Halloween sebagai tema tayangannya.

Malam ini seperti biasa aku gelisah menunggu jam tengah malam untuk bisa ke warnet dan menikmati happy hournya yang super murah. Sembari menunggu tengah malam aku biasa nonton tayangan film di TV untuk membunuh waktu. Tapi tayangan malam ini bener-bener menyebalkan. Setelah bosan menonton sinetron di RCTI, aku pindah channel ke Trans TV yang ternyata menyajikan film horror. Film horror adalah genre film yang sangat aku benci. Selain membuat penontonnya ketakutan, film horror tidak memberikan apa-apa lagi yang bermanfaat. Balik lagi pindah ke RCTI yang kali ini menayangkan juga film monster, yang bikin aku ngeri dan jijik. Jadi malam ini, mau tak mau aku harus menikmati sajian film yang hanya bikin aku ngeri untuk keluar rumah.


Begitu menyebalkannya cara merayakan Halloween seperti ini. Mungkin di negara asalnya Halloween diperingati dengan trick or threat, labu Jack O'Latern, pesta kostum, dll itu bisa terasa meriah dan seru. Tapi kalo dirayakan dengan tayangan seram kayak gini jelas-jelas aku nggak setuju. Sejujurnya aku bukan tipe orang penakut. Tapi aku paling tidak suka ditakut-takuti. Perasaan takut seperti ini hanya membuat aku kehilangan pikiran rasional. Kehilangan pikiran rasional membuat aku menjadi takut keluar rumah walaupun ingin. Dan akhirnya aku cuma bisa misuh-misuh sambil memaksa untuk pergi ke warnet.

Nonton film horror sebenernya kayak buah simalakama. Ketika belum mulai nonton memang kayaknya males banget dan begitu kuhindari. Namun begitu sudah mulai melihat sedikit tayangannya, timbul juga rasa penasaran ingin tau ceritanya. Wah, kalo udah gini rasanya seperti tersihir dan tidak mau beranjak. Sesudah menonton biasanya aku cuma bisa menyesal, karena yang tersisa cuma rasa takut. Aku juga heran, kenapa sih manusia senang menakut-nakuti diri sendiri. Sepertinya film horror sudah seperti candu yang mematikan saja. Yang namanya candu memang suka sesal di belakang. Itulah yang buat aku begitu menghindari film horror. Tapi kalo memang udah nggak ada yang lain buat dikerjakan atau ditonton ya apa boleh buat. Kacau besar lah pokoknya kalo udah di situasi ini.


Akhirnya jarum jam nunjukkin juga pukul 12 malam. Itu artinya aku harus keluar rumah kalo ingin ke warnet dengan happy hour price. Ya, akhirnya aku ambil pilihan untuk keluar biarpun dengan resikp ketakutan. Jam segitu di komplek aku kebanyakan udah pada tidur dan suasana malam menjadi mencekam. Malam-malam seperti ini biasanya tidak begitu mempengaruhiku. Aku yang memang sudah terbiasa keluar malam tidak pernah mempedulikan betapa mencekamnya suasana tengah malam itu. Tapi lain sekali malam ini, sehabis nonton dua tayangan bioskop Trans TV, yaitu Darkness Fall dan Tales From The Crypt pikiran irrasionalku mulai menguasai. Jangan-jangan ini, jangan-jangan itu, perasaan was-was akan sesuatu yang nggak perlu dicemaskan memang menyebalkan. Namun toh aku pergi dan sampai ke warnet juga. Dengan itu terbuktilah bahwa sebenernya rasa takut hanyalah bagian dari imajinasi. Aku akui setan itu memang ada, tapi setan bunuh orang rasanya kok masih sulit ya buat percaya.

Bahan bacaan:
Halloween - Wikipedia Indonesia
Halloween - Wikipedia English

Sumber foto: Corbis, Marion Raven

You Give Me Something


Saat tulisan ini dibuat, postingan pada blog aku tercinta ini udah mencapai 50 post walaupun ada banyak juga draft post yang akhirnya nggak di publish. Pada tulisan ke-50 ini aku pengen meninjau blog aku lagi untuk kemudian membuatnya lebih baik lagi. Karena dengan peninjauan ini, di masa mendatang aku dapat menyusun tulisan, foto, meterial pendukung, link-ling dan template blog yang lebih menyamankan dan memenuhi kebutuhan pengunjung blogku yang tercinta.

Biarpun selama ini masih sedikit pengunjung blog yang bersedia mampir, aku mencoba bersikap optimis saja. Yang penting sekarang adalah bagaimana menciptakan blog yang baik, tanpa harus rewel soal ini itu. Jangan meminta sesuatu yang lebih ketika kau tidak memberikan apa-apa, ungkapan itu sebaiknya lebih aku pahami lagi.


Pada awal mulanya aku memakai fasilitas blog pada Google Blogger, ada dua versi blog yang aku miliki. Versi itu adalah versi bahasa Indonesia (itisrama-id.blogspot.com) dan Inggris (itisrama.blogspot.com). Namun pada perkembangannya, terasa repot juga untuk mengelola dua blog untuk seorang newbie seperti aku yang baru belajar nulis, apalagi kemampuan bahasa Inggris aku juga pas-pasan (kok jadi minder ya?).

Akhirnya aku putuskan untuk melakukan merger pada dua blog ini menjadi blog yang saat ini ada. Paska keputusan itu aku menjadi semakin rajin posting dan tidak merasa terbebani. Namun yang menjadi masalah, blog ini menjadi semakin didominasi oleh tulisan berbahasa Indonesia. Tapi sudahlah, sementara ini aku mencoba menciptakan environment menulis yang lebih ringan karena sejujurnya menulis dengan English itu terasa berat bagiku (selalu merasa takut akan grammar dan tenses). Konsekuensinya adalah belakangan ini aku merasa kemampuan bahasa Inggris yang semakin menurun.


Dalam menulis aku menciptakan situasi yang sebebas-bebasnya. Tidak ada lagi batasan tema, I just write that I think. Seringkali aku membuat tulisan yang begitu pribadi tapi juga kerap menulis yang bersifat umum. Sumber bacaanku terutama dari Wikipedia (versi Indonesia atau Inggris) juga artikel-artikel yang ter-crawl oleh Google. Untuk sumber foto aku selalu setia memakai Corbis, karena selama ini Corbis merupakan portal yang serba komplit untuk masalah materi foto.

Foto yang ditampilkan dalam blog aku sebisa mungkin aku hindari untuk menampilkan orang-orang bule. Hal sepele ini sebenarnya akibat trauma ketika aku lomba presentasi di kampus Kedokteran UGM. Oleh jurinya aku dikritik karena banyak menampilkan gambar orang bule sebagai foto pendukung materi. Aku rasa hal itu ada benarnya juga. Masyarakat umumnya menyukai hal yang bersifat lokal, itu lebih memberikan rasa kedekatan.

En Rollercoaster adalah nama blog ini ketika awal diciptakan dan sampai saat ini tidak dirubah. Nama ini merupakan gabungan kata Inggris dan Prancis yaitu En (Prancis: di dalam) Rollercoaster (Inggris: wahana halilintar). Lagu Ronan Keating yang berjudul Life is a Rollercoaster merupakan inspirasi terbesar dari pemilihan nama ini. Jadilah aku memilih En Rollercoaster untuk menggambarkan tulisan-tulisanku yang menjadi representasi hidup yang selalu naik turun seperti jalur rollercoaster dan manusia berada pada kereta rollercoaster yang nantinya akan berhenti pada waktunya.

Themes (tampilan design) blog ini hanyalah modifikasi kode CSS dari theme Minima Black bawaan dari Blogger. Untuk backgroundnya, dulu aku mengunduh dari DeviantArt, tapi aku lupa alamat pastinya dan siapa pembuat originalnya (maaf seribu maaf, saat itu masih cupu). Sebenarnya aku masih merasa kurang terus pada tampilan design blog aku ini. Beberapa kali aku melakukan modifikasi sidebar, logo, header, dll. Rencananya aku akan membuat themes yang lebih mencerminkan isi blog ini, dan tentunya tidak lupa untuk lebih menghormati hak cipta. Doakan saja itu dapat segera terealisasi.


Ada beberapa rencana yang aku siapkan untuk blog ini, diantaranya adalah mempersiapkan private hosting. Untuk mesinnya aku akan mengambil dari Wordpress.org, karena mesin ini adalah yang paling baik menurutku. Mesin Blogger memiliki banyak keterbatasan dan rentan dihapus oleh Google (semoga ini tidak terjadi!). Tapi rencana ini aku rasa baru akan terealisasi saat blog ini sudah benar-benar bisa lebih baik lagi perkembangannya. Saat ini aku juga masih belajar untuk lebih mengenali sistem Wordpress agar nantinya ketika diluncurkan, blog baruku akan benar-benar matang penggarapannya.

Selama ini aku merasa blog sudah benar-benar memberikan begitu banyak ruang bagiku untuk mengekspresikan diri. Tanpa blog, rasanya semakin lama aku semakin menjadi katak dalam tempurung. Lewat blog aku belajar untuk mengapresiasi, mengungkapkan sesuatu, menghargai karya orang lain dan banyak hal postif lainnya. Teknologi ini memfasilitasiku dan menjadi oase bagi krisis eksistensi.

Tuesday, October 28, 2008

Paedofilia Berkedok Agama


Sudah dengar berita tentang Syekh Puji (45 tahun!) yang nekat menikahi Ulfa, gadis (atau anak-anak ya?) berumur 12 tahun. Kejadian ini sontak langsung memicu amarah masyarakat, rohaniawan dan kaum feminis dan langsung menentang pernikahan (atau perkawinan sih?) yang sebenarnya akan membatasi hak-hak anak untuk bergaul dan tumbuh seperti anak-anak lain pada umumnya. Tapi yang ditentang untuk ternyata malah balik menantang dan merasa yang dilakukannya itu merupakan hal yang benar karena agama memperbolehkannya. Waduh kacau berat nih.

Syekh Puji merupakan pengusaha kaya raya dan tokoh rohani yang terpandang di Semarang. Mobilnya saja sudah puluhan belum lagi propertinya. Selain itu dia juga sudah punya istri yang katanya lebih mengutamakan urusan agama dan sedang fokus mengurus pondok pesantren. Alasan inilah yang membuat beliau ini nekat melakukan audisi mencari bakat-bakat gadis muda untuk dinikahi. Tidak hanya muda, kyai paedofil ini mencari anak dibawah umur untuk dinikahi. Menurut beliau, setelah dinikahi, maka anak kecil itu akan dididik untuk mengurus perusahaan besarnya. Sepertinya alasan ekonomi memang menjadi faktor yang mendorong terjadinya pernikahan paedofil ini.


Tapi menurut orang tua anak dibawah umur tersebut, pernikahan itu terjadi semata-mata atas keinginan si anak sendiri. Masalah ekonomi menurutnya sama sekali bukan faktor yang menjadi dasar keputusan. Oleh sang orang tua, Kyai Paedofil itu dianggap sebagai pendidik spiritual dan pengusaha sukses yang mampu membahagiakan Ulfa, anak berumur 12 tahun itu. Setelah dinikahi, katanya Ulfa akan disekolahkan manajemen dan seluruh kebutuhannya akan dipenuhi. Padahal Syekh Puji sendiri berkomentar bahwa untuk menjadi istrinya, Ulfa tidak perlu sekolah lagi karena beliau nggak perlu ijazah. Satu lagi hak anak untuk memperoleh pendidikan dicederai. Parah bener nih orang!

Menurut Syekh Puji, nikah di bawah umur tidak dilarang oleh agama. "Nabi Muhammad sendiri menikahi Siti Aisyah sewaktu berumur 9 tahun" alasannya. Tapi MUI sendiri mengatakan bahwa tindakan Rasulullah tidak bisa sembarangan ditiru oleh manusia biasa, apalagi yang merasa sudah banyak tahu tentang agama. Untuk bisa menikah dibawah umur harus diputuskan oleh pengadilan. Syekh Puji menantang bagi siapun yang menentangnya untuk menunjukkan dalil hukum syariah Islam yang tidak membenarkan tindakannya, sekali lagi terlihat wujud kesombongannya yang merasa hidup di negara Islam dan tidak menghormati hukum yang berlaku di Indonesia yang jelas-jelas menentang seorang wanita untuk menikah dibawah umur 16 tahun.

BKKBN sendiri menganjurkan bagi wanita untuk menikah diatas umur 20 tahun. Sebab sebelum umur 20 tahun, organ reproduksi wanita belum terbentuk dengan matang. Selaput pada mulut rahim yang masih tipis akan sangat rentan untuk menimbulkan penyakit kanker mulut rahim. Kemungkinan timbulnya penyakit kanker mulut rahim akan semakin besar jika dilakukan hubungan intim sebelum umur 20 tahun. Peradangan pada selaput di mulut rahim akan memicu sel-sel kanker untuk terbentuk. Dan siapa lagi yang akan menderita selain anak-anak lugu yang menjadi korban para paedofil ini. Sungguh malang memang nasib mereka.

Untuk itulah para orangtua seharusnya mampu melindungi anak-anak gadisnya agar tidak menjadi korban praktek paedofil. Janganlah menjadikan agama sebagai payung hukum. Sebab saya rasa Islam sendiri mengajarkan untuk tidak melakukan sesuatu yang sebenarnya dapat untuk dihindari dan bukan sesuatu yang darurat seperti pernikahan paedofil misalnya. Jika memang tujuan Syekh Puji adalah untuk menjadikan istri pilihannya sebagai pemimpin perusahaan, mengapa tidak memilih istri muda yang telah cukup umur saja. Beliau memang sudah benar-benar gendeng, melihatnya saja aku sudah gedeg. Kabarnya kyai paedofil ini akan menikahi anak-anak dibawah umur lainnya. Sebaiknya memang pemerintah dan masyarakat lebih tegas untuk bertindak. Jangan sampai hal ini sampai terulang lagi. Hormatilah hak anak dan wanita, jangan jadikan kekuasaan, harkat dan martabat sebagai sarana untuk menindas orang lain.

Update:
Dikabarkan Syekh Puji membatalkan (atau menceraikan sih?) pernikahannya dengan Luthfiana Ulfa setelah mendapat kecaman keras dari komnas perlindungan anak dan dilaporkan perbuatannya ke kantor polisi. Kuasa hukum dari Syekh Puji meminta agar setelah Ulfa diceraikan, maka tidak ada lagi tuntutan hukum yang dialamatkan pada Syekh Puji (duh, enak banget ya!). Namun beberapa pihak menuntut agar Syekh Puji memberikan ganti rugi atas derita psikologis Ulfa paska diceraikan. Lebih menggembirakan lagi, sekolah Ulfa dengan senang hati menerima kembali gadis itu untuk kembali bersekolah. Di sekolah Ulfa termasuk anak yang berprestasi dan cerdas, begitu menurut pengakuan salah seorang temannya. Yah, semoga kasus yang super ribet ini nggak terjadi lagi deh.

Netbook, Solusi One Laptop Per Child


Perkembangan teknologi mau tak mau menjadikan laptop atau notebook sebagai kebutuhan dasar dari kegiatan pendidikan dasar. Laptop saat ini bukan hanya monopoli kebutuhan para pebisnis atau mahasiswa saja. Mau tak mau, anak-anak juga memerlukan notebook sebagai alat penunjang pendidikan. Sudah bukan jamannya lagi pendidikan dasar hanya disampaikan melalui papan tulis atau pekerjaan rumah yang ditulis lewat buku catatan konvensional. Teknologi komputer dan internet sudah saatnya utuk diperkenalkan mulai dari usia dini.

Pentingnya laptop bagi anak-anak sudah mulai dikemukakan oleh sebuah organisasi nirlaba sejak lama melalui program OLPC (One Laptop Per Child), atau satu laptop untuk tiap anak. Jika program ini berhasil, maka selanjutnya pengenalan teknologi komputer dan internet akan dapat dengan mudah diaplikasikan pada pendidikan dasar. Melalui email misalnya, anak-anak dapat mengumpulkan pekerjaan rumahnya dan memperoleh pekerjaan rumah baru. Di sekolah laptop masing-masing anak dapat terhubung melalui jaringan wireless dan guru dapat memberikan materi dengan mudah dan jelas, sambil menerangkannya secara lisan. Selain itu daya kreativitas anak-anak dapat terbentuk dan mampu untuk mengeksplorasi komputer dan internet lebih dalam. Selanjutnya maka tidak ada lagi istilah gaptek alias gagap teknologi bagi generasi muda suatu bangsa.


Perkembangan teknologi laptop telah melahirkan terobosan baru platform laptop netbook, atau yang sering disebut subnotebook alias notebook mini. Selain menawarkan harga yang lebih ekonomis, netbook juga menawarkan performa komputer yang standar dan memadahi. Saat ini telah beredar netbook dengan berbagai merk, diantaranya MSI Wind, Acer Aspire One, Asus EeePC, Axioo Pico, dll. Kisaran harga yang ditawarkan saat ini mulai dari $450-$600. Menurut pendapatku, harga tersebut sudah termasuk murah namun masih belum terjangkau untuk mendukung program OLPC ini. Akan tetapi diperkirakan dalam satu tahun ke depan harga netbook akan mencapai kisara $200 bahkan lebih. Semoga hal ini dapat segera terealisasi.

Performa netbook yang tidak bisa dibilang minim ini salah satunya didukung oleh tertanamnya prosesor Intel Atom. Prosesor mikro dengan konsumsi daya rendah tersebut saat ini paling tinggi berjalan pada frekuensi 1,6 Ghz dengan memori cache 512KB atau sekitar 1/4 dari cache Inter Core 2 Duo pada umumnya. Dapat disimpulkan performa netbook dengan Intel Atom dapat dibandingkan dengan komputer konvensional dan sangat efektif untuk kegiatan komputasi dasar. Ada salah satu komentar yang menyatakan bahwa netbook dengan Intel Atom adalah notebook standar tapi berbentuk mini, atau dapat dikatakan tidak ada yang berbeda. Generasi selanjutnya dari Intel Atom sedang dikembangkan, yaitu Inter Atom Duo. Kabarnya AMD juga sedang mengembangkan prosesor serupa yang dikhususkan untuk netbook.


Hard disk yang tertanam pada netbook ada dua macam, yaitu HDD dan SSD. HDD merupakan hard disk yang lazim dijumpai pada notebook atau PC pada umumnya. Kelebihannya adalah kapasitasnya yang besar, harganya yang terjangkau, juga write dan read speed yang cukup cepat. Namun hard disk jenis HDD sangat boros dalam konsumsi daya, suara yang bising dan memeliki beban yang cukup berat untuk netbook. Pilihan kedua adalah SSD, storage device jenis baru yang diklaim lebih ringan, hemat daya, tidak bising akan tetapi cukup mahal harganya untuk kapasitas yang lebih tinggi, juga read dan write speed yang lambat. Tentunya kedua tipe hard disk ini memiliki penggemarnya masing-masing.

Ukuran netbook yang mini dengan layar 7 inchi hingga 10 inchi dan beban yang beratnya sekitar 1 kg memiliki keuntungan dari segi mobilitas. Ukuran yang mini memungkinkan anak-anak untuk membawanya dengan mudah kemana-mana. Selain itu netbook juga rata-rata tidak cepat panas dengan daya baterai yang mendukung pemakaian 2-3 jam untuk baterai 3 cell dan 5-6 jam untuk baterai 6 cell. Sesuatu yang mini dan ringkas memang selalu dibutuhkan untuk mobilitas yang tinggi. Oleh karena itu saat ini netbook begitu laris di pasaran. Akan tetapi ukuran layar yang kecil kadang menjadi masalah bagi yang memiliki keterbatasan penglihatan. Tentunya hal ini perlu dipikirkan solusinya.

Pengembangan dan inovasi netbook pada masa mendatang tentunya menjadi hal yang sangat ditunggu-tunggu. Suatu saat bukan tidak mungkin bahwa netbook mampu menggeser notebook dengan penawaran harga dan kepraktisannya. Pemerintah Indonesia juga perlu untuk merealisasikan program OLPC dengan memanfaatkan keberadaan netbook ini. Anggaran dana pendidikan pendidikan yang mencapai Rp 200-300 triliun, paling tidak mampu memberikan gratis netbook seharga Rp 3 juta saja. Dengan dana Rp 3 triliun akan dapat mengakomodasi kebutuhan 1 juta anak sekolah. Apalagi bila di masa datang harga netbook turun menjadi sekitar Rp 2 juta. Yah, semoga saja ini mampu terealisasi suatu saat nanti. Bagaimanapun juga generasi muda yang berkualitas mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang terbaik suatu saat kelak.

Sekedar latihan untuk menulis serius, hehehe
sumber gambar dari sini, sini dan sini

Update:


Sebenarnya organisasi OLPC (One Laptop Per Child) telah lama meliris OLPC XO-1 Laptop yang tiap unitnya seharga $100 dan berplatform netbook UMPC. Laptop yang dipersenjatai AMD Geode LX-700 433Mhz ini diberikan secara gratis oleh OLPC bagi anak-anak di berbagai belahan dunia setiap ada donatur yang memberikan sumbangan. Namun laptop ini begitu banyak memiliki keterbatasan diantaranya karena menggunakan sistem operasi Linux berbasis Fedora yang tidak begitu populer. Kabarnya akan diliris adaptasi Windows XP yang akan ditanamkan pada laptop ini. Kelengkapan OLPC XO-1 Laptop diantaranya adalah wireless connection (wifi), webcam, 256MB RAM, 7,5"display dan dukungan USB/SD Card. OLPC akan segera meliris OLPC XO-2 yang masih diproduksi oleh Quanta Computer. Ketika tulisan ini dibuat Indonesia belum termasuk negara yang mendapatkan dukungan dari OLPC, padahal hal ini begitu dibutuhkan oleh anak-anak Indonesia. Untuk itu salah satu solusinya adalah pemerintah berusaha mengadakan alternatif netbook lain sebagai adaptasi dari program OLPC atau berusaha membeli OLPC.