Wednesday, November 05, 2008

Udah Bokek Apa-apa Naek bikin Hoek


Krisis global yang dialami oleh sebagian besar negara di dunia memang dampaknya sangat menjengkelkan dan menyedihkan. Begitu juga di Jogja kampung halamanku yang tercinta ini. Sekarang untuk beli segala sesuatu musti merogoh kocek yang lebih dalam. Aku yang saat ini jadi pengangguran (kuliah aja nggak pake part time) jadi kalang kabut. Sumber dana harian hanya dari ibu dan sumbangan sukarela temen-temen yang aku bantuin sesuatu. Padahal kebutuhanku nggak bisa dibilang sedikit (walaupun nggak bisa dibilang banyak). Walhasil sekarang aku jadi lebih banyak gigit jari.

Nilai tukar dollar terhadap rupiah saat tulisan ini ditulis mencapai Rp.11.102/$1 (sumber: Bank Indonesia). Akibat angka keramat itu, seluruh barang-barang naik harganya secara berjamaah. Telur yang dulu sebutir cuma Rp.1000 sekarang mencapai Rp.1300. Angkot yang dulunya cuma Rp.2000 sekarang Rp.2500. Dan yang lebih parah lagi, warnet Groovy Concat yang dulu happy hournya cuma Rp.1000 per jam, sekarang naik 150% alias jadi Rp.2500 per jam. Semua ini benar-benar menyengsarakanku yang biarpun bukan anak kost tapi kondisi dompetnya seperti anak kost pada umumnya.


Akibat tarif warnet yang naik, aku jadi perlu pikir-pikir 2 sampai 10 kali. Tapi toh akhirnya dengan susah payah aku memaksakan untuk ngenet juga. Ngenet adalah kebutuhan mendasarku selain makan dan minum (duh lebay banget). Tanpa ngenet badanku bisa gatel-gatel dan meriang. Daripada lebih menderita jadinya aku tetep ngenet dengan harga yang aduhai itu. Selain itu tetep aku harus melek tengah malam biar tetep dapat tarif yang katanya murah (padahal mahal). Semoga aja perjuangan ini ada artinya. I'm blogging for living.

Krisis global, bagaimanapun harus dihadapi. Manusia itu tidak selamanya berada di comfortable zone, sehingga manusia yang beruntung adalah yang mampu mempersiapkan apapun yang terjadi. Tuhan kalau memberikan cobaan itu nggak akan lebih dari kemampuan ciptaannya. Jadi kalo sekarang aku diuji harus menghadapi harga-harga yang naik, maka Dia tahu bahwa aku itu orang yang kuat dan mampu mengatasinya. Yang bisa aku lakuin sekarang cuma berdoa agar nantinya krisis mereda dan semua kembali normal. Juga agar aku bisa cepet lulus dengan nilai baik dan dapat kerjaan layak. Jadi mahasiswa itu semacam tekanan batin, di satu sisi aku bukan lagi anak-anak, tapi di sisi lain kadang aku masih merasa seperti anak-anak. Remaja nanggung seperti aku dituntut untuk bisa mempersiapkan hidup layaknya manusia dewasa.


Lupakanlah krisis global, yang bisa dilakuin adalah berpikir kreatif. Misalnya bener-bener bokek, aku bisa nebeng laptop temen untuk bisa wifi gratis di kampus. Atau misalnya bener-bener nggak ada motor dan naik angkot mahal, aku harus bisa jalan kaki misalnya ke kampus (dengan resiko betis bengkak). Pokoknya harus seperti bunglon yang dapat menyesuaikan diri pada kondisi apapun. Semakin bisa menyesuaikan diri maka akan semakin bisa fleksibel bahkan dalam kondisi ekstrim seperti apapun. Kemauan itu harusnya berbanding lurus dengan kemampuan. Bila saat ini memang belum mampu, maka tabahkan hati jika hanya harus memimpikannya. Namun jangan jadikan mimpi itu menyakiti hati dan membuat putus asa. Tapi jadikanlah mimpi sebagai pemacu diri untuk berusaha meraihnya. Mau krisis global atau krisis moneter, yang jelas dunia nggak pernah menyediakan sesuatu bagi penghuninya dengan mudah. It's not a first class hotel, it's a wild jungle.

Another post of Kyai Djarkoni (iso ujar ra iso nglakoni)

Sumber foto: Corbis and [modified from] MyGroovy

3 comments:

  1. Memang kalau melihat kondisi krisis ekonomi ini pikiran bisa dipenuhi hal2 yang negatif ya, doom and gloom kata orang2 tapi ya kali lebih baik dipikir positifnya mengikuti ungkapan lama bagaimanapun klisenya "when there is a will, there will be a way" 0-)

    Tapi kamu sebagai mahasiswa mestinya tidak perlu terlalu kuatir, khan pada sejarahnya sebagai mahasiswa khan selalu "kere" he..he.. tapi justru mahasiswa itu paling kreatif sehingga selalu bisa memecahkan masalah "kekereannya" ini 0-) Semoga....

    ReplyDelete
  2. @duco
    ya memang benarlah begitu adanya. yang jelas bagaimana caranya bisa mensiasati situasi tidak ramah seperti ini kan yang paling penting. leave all the negative thought... doain sukses uts ya (bentar lagi nieh)

    ReplyDelete
  3. Inget banget dulu gw jaman jadi mahasiswa kwkwkwkwkwkwkwkk
    Kalo udah akhir bulan nyari sisa recehan (gopean) di laci, buat beli ind*mie..
    Ketemu duit goceng di celana aja bahagia ahahahaha...

    Buat mahasiswa sekarang harus melek investasi nih, supaya ga boros n kere kaya guee waktu ituuu..
    Pengetahuan yang bagus buat kamu mahasiswa!
    investasi untuk mahasiswa

    ReplyDelete