Baru-baru ini aku nonton pertunjukan orkestra simphoni anak-anak ISI di Societeit alias Taman Budaya Yogyakarta. Konser orkestra itu ternyata sukses menarik animo warga Yogyakarta untuk berpartisipasi, jadinya ketika aku datang tiket sudah terjual habis. Untung saja temanku kenal orang dalam di ISI sehingga malah bisa masuk secara gratis. Sejujurnya (kebangetannya aku!) ini baru pertama kalinya aku ke Societeit yang dulunya bioskop tua itu. Dan pengalaman ini benar-benar membuatku merasa bangga menjadi bagian dari Yogyakarta. Konser orkestra ini membuktikan bahwa Yogyakarta adalah benar-benar kota yang menghargai dan memfasilitasi segala kegiatan yang berhubungan dengan pelestarian budaya. Konser malam itu sangat bagus dan tetata apik, meskipun ada juga yang berkomentar masalah gedung pertunjukkannya yang ini lah itu lah, but leave it!
Orkestra simphoni sepertinya adalah budaya yang tidak "Indonesia" banget, tapi ternyata malam itu juga ada pertunjukkan tari Jawa yang dibawakan oleh anak-anak. Jadi bisa dibuktikan bahwa Societiet bisa mensinkronkan kedua kubu budaya ini menjadi suatu perpaduan yang malah jadi semakin meramaikan tempat itu. Mempertahankan budaya asli bukan berarti menanamkan sikap apatis terhadap budaya luar kan? Sebab semua itu akhirnya akan menciptakan nuansa pluralisme yang akan mempersatukan segala komponen masyarakat dari berbagai bangsa, suku atau latar belakang budaya.
Societeit sendiri merupakan bagian dari kompleks nol kilometer yang dulunya adalah pusat pedagang buku kaki lima (semacam Kwitang, Jakarta) yang kurang tertata dan kawasan kurang terurus. Namun saat ini kawasan itu telah menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan Yogyakarta. Di kawasan itu dapat ditemui Taman Pintar (fasilitas pendidikan dan bermain anak-anak), Taman Budaya alias Societeit (tempat digelarnya berbagai seni pertunjukkan juga pameran), Benteng Vredeburg (berfungsi ganda, museum dan ruang pamer publik, seringkali juga dijadikan tempat berlangsungnya event khusus), dan Monumen Serangan Umum 1 Maret (yang dijadikan tempat pertunjukkan outdoor).
Fasilitas-fasilitas pendukukung pada kawasan itu diantaranya adalah Toko buku murah "Shopping" yang didalamnya terdapat kios-kios pedagang buku dengan harga terjangkau. Tempat ini adalah kompensasi pemerintah Yogya yang diberikan kepada para pedagang buku yang dulunya menghuni kawasan kaki lima "Shopping". Selain itu disepanjang kawasan nol kilometer disediakan ruang duduk publik yang dapat digunakan sekedar menikmati suasana kota Yogyakarta dengan penduduknya yang beragam. Di tempat ini berbagai orang berkumpul untuk berbincang-bincang, mempertunjukkan ketrampilannya (ngamen, break-dance, skater, orasi, dll), juga untuk saling berkenalan. Di dekat tempat ini ada juga Pasar Sore yang menjual barang-barang dengan harga murah dan buka sampai malam. Kawasan Nol Kilometer memang strategis, letaknya berdekatan dengan area Malioboro, Pasar Beringharjo, Istana Negara (Gedung Agung) dan Alun-alun Utara Yogyakarta. Sehingga dengan sedikit perbaikan disana-sini, di masa mendatang kawasan Nol Kilometer akan menjadi magnet pariwisata Yogyakarta.
Part of writer's block series
Sumber gambar dari sini dan sini






